Skip to main content

Posts

Pram, Teman Kecilku

Pram, dia teman pertama dan terbaikku saat masih di taman kanak-kanak dulu. Tinggi kami tidak lebih dari 100 cm saat itu. Ibu Pram sangat baik, aku sering mampir ke rumahnya sebentar setelah pulang sekolah, sekedar untuk minum dan makan makanan kecil. Ayah Pram juga sangat ramah, kami sesekali diantar Ayah Pram ke sekolah. Pram baru punya satu adik saat itu. Rupanya aku dan Pram masuk ke sekolah dasar yang sama. Seiring bertambahnya kelas, dia semakin tinggi dan kurus menjulang, persis seperti ayah dan ibunya. Tidak hanya tingginya yang bertambah, adik Pram pun terus bertambah, sampai ia memiliki empat adik. Ibuku dan Ibunya saling mengenal. "Mama Jani", begitu Ibu Pram memanggil ibuku. Ibu Pram tidak sesegar ketika aku masih TK dulu. Meskipun tubuhnya semakin kurus, tetapi senyumnya tetap seteduh dahulu.  Aku dan Pram tidak lagi satu sekolah di SMP dan SMA. Yang aku tahu, keluarga Pram sudah pindah ke Bogor. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat Pram dan seluruh ke...

Bersambung 2..

Jagat memang menyebalkan, tapi cobalah sekali saja travelling bersamanya, maka kamu akan ketagihan. Kalau ada malam penganugerahan travelmate terbaik, mahkota itu pasti akan aku berikan padanya. ------------------------------------------------------------------------------------------------------ Aku baru selesai mandi ketika ku dengar ada suara vespa di depan rumah.  Tak lama kemudian terdengar suara memanggil, “Anjani.. Jani..” “Sebentar Gat!” Jawabku agak berteriak dari dalam kamar.  Sepuluh menit kemudian, barulah aku keluar, menghampiri Jagat yang sudah menunggu di beranda. Dia masih mengenakan setelan kantornya, kemeja, celana, dan pantovel yang seba hitam. Aku lebih suka melihat jagat dengan kaos hitam dan jins belelnya. Jiwanya terasa lebih hidup. “Tumben lo mandi. Bakal badai kayanya malem ini,” katanya asal sambil melihat langit kemudian bersiul riang. “Jadi, ke Rinjani kita bulan depan?” Tanyaku tanpa menghiraukan gurauannya. Jagat mengelu...

Sick Leave

Semesta berkonspirasi. Udah hampir satu setengah tahun saya kerja, tapi cuti sakit belum pernah dipake. Sempet mikir tolol, "ah, bisa kali sakit, nggak usah kerja." Padahal cuma mikir sepintas dan efeknya cepet banget ternyata. Jedar! Dua hari kemudian. Saya panas dingin. Bolak-balik kamar mandi. Ahhh, begini ternyata rasanya sakit sendirian di kosan. Nggak ada air anget, bahkan selimutan juga pake sleeping bag yang bau gunung dan masih ada sisa-sisa rumputnya. Langsung kebayang, andai sakit di rumah, ada ibu yang bikinin air anget, mijetin, bahkan megangin kepala mastiin udah nggak panas. Cuti sakit? Ujung-ujungnya nggak saya ambil juga. Jauh-jauh sama sakit. Biarin deh masuk kantor terus, yang penting sehat! Satu lagi, hati-hati sama harapan lo, bahkan untuk yang nggak terucap sekalipun.

Bersambung 1..

Kalau sebagian orang sedang berusaha menemukan belahan jiwa mereka, aku rasa aku sudah bertemu dengan belahan jiwaku. Travelling , dia adalah belahan jiwaku. Aku sudah merasa penuh ketika aku travelling. Ibuku bilang, ada bulu kakiku yang sudah jatuh di jalan, sehingga aku tidak pernah betah di rumah, persis seperti ayahku. Dari cerita ibuku, aku tahu bahwa Ayah adalah seorang petualang, bahkan dia melamar ibu di Segara Anak. Ayahku masuk ke dalam golongan yang berbahagia menurut Gie, karena dia mati muda. Dia meninggal di usianya yang ke 32, saat sedang melakukan ekspedisi arung jeram di sungai Citarik. Saat itu, aku baru berusia 5 tahun. Ingin rasanya aku bertanya pada Gie, apakah mereka yang ditinggalkan oleh orang yang mati muda juga termasuk golongan yang beruntung. “Gat, gw baru aja jadi SARJANA!!! Rinjani yuk bulan depan!” Aku menelepon Jagat dengan nada suara dua oktaf lebih tinggi dari suara alto ku. Jagat menjadi orang kedua setelah ibuku yang aku telepon setelah din...

Whatsapp!

Empat bulan terakhir, pagi saya tidak diawali dengan doa pagi, tapi mengecek BB. Makan siang saya bersama teman-teman yang "nyata" ada di sekitar, masih sering diganggu oleh teman-teman yang "maya" di sosmed maupun grup-grup whatsapp. Setelah seharian menatap layar komputer, sesampainya di kosan,  saya habiskan untuk menatap layar handphone. Tidak cukup untuk membuka hari, menutup hari juga dengan mengecek BB. "Minta no lo yang WA nya aktif dong!" "Lo ada WA?" "Hari gini nggak punya WA?" "Buruan lah nabung, smartphone sekarang murah-murah ko."  "Ayo dong punya WA, biar bisa ngobrol di grup."  Ajakan untuk punya WA ternyata bisa lebih dahsyat dari ajakan untuk bergabung ke sekte tertentu. Biasanya, saya cuma bales, "Iya, ntar. Nabung dulu." atau "Ntar deh, tunggu mati total." Di saat orang lain mulai meninggalkan BB, saya akhirnya mencicipinya, kakak saya yang super baik hati memberik...

Si Anak Petir

"Aaaaaaa, Huahuaaaaaa... " Badan saya yang panas dingin makin nggak jelas rasanya ngedenger anak nangis dari dalem ruang perawatan. 20 menit kemudian, anak ini keluar sama bapaknya dengan perban di kepala belakang. Di baju belakang dan lehernya masih ada sisa darah. "Sini, duduk sini dek!" Kata Bapaknya sambil nunjuk kursi persis di sebelah saya. Matanya masih sembab, tapi udah sama sekali gak nangis, tanpa ekspresi. Dia duduk di sebelah saya. Ngeliat perbannya, ngeliat darah di leher sama bajunya, dengkul saya jadi lemes. Saya jadi inget, ade saya pernah jatoh dari sepeda, dan lukanya lumayan parah di bahu, begitu saya liat, kepala saya langsung pusing dan nggak kuat duduk. Saya tanya sok akrab, "Kenapa, dek?" Anak itu diem. Bergeming. Cuma natap lurus ke tv di depan. "Jatoh, Mbak. Sobek. Lari-larian pas hujan. Ini dapet empat jaitan," kata Bapaknya ramah. "Tadi mah pas jatoh nggak nangis sama sekali. Ini anak kuat banget. Waktu...

Mata Dewa

Biar saya tambahkan kesenangan saya yang lain. Menjemput dan menghantarkan matahari. Untuk itulah, saya ada di sini sekarang, di dubur laut selatan, bersama hamparan milyaran pasir, dan seorang teman perjalanan. "Cemburu pada sang ombak yang selalu bergerak. Cemburu pada samudera yang menampung segala." Iwan Fals bersenandung lirih di sebelah saya, lewat handphone kecil nan jadul. Saya biarkan ujung kaki saya disentuh ombak yang katanya selalu bergerak. Mata saya menjelajah samudera, tanpa berakomodasi. Angin pantai begitu bersahabat. Mendadak saya mengerti arti "santai aja kaya di pantai. " Haruskah saya iri pada samudera? Rasanya tidak. Siapa yang bilang menampung segalanya itu enak? Saya mungkin akan lebih memilih menampung secukupnya. Matahari sudah semakin pendek. Semakin mendekati garis laut, semakin besar ia. Tidak cuma langit yang mulai menjingga, hampir seluruh pantai ini mulai menjingga. Ini bagian yang paling saya tunggu-tunggu. Momen jingga. ...

Jokowi dan Sendal Gunung

Kalo ada yang tanya, "lo dukung siapa?" Saya bakal jawab dengan pasti, "Jokowi!". Ada yang milih presiden berdasarkan track recordnya, ada juga yang "gw gak mau dukung A karena di belakang B tuh ada A1 sampe Z1000 yang gw gak suka", ada juga yang "partai gw dukung C, makanya gw juga pilih C", ada juga yang pake teori konspirasi, dan masih banyak lagi. Kalo orang lain punya alesan rasanya tinggi, bagus, dan sangat sistematis, saya nggak punya alesan secerdas dan sebrilian itu. Ini dia alesan saya kenapa Jokowi. 1. Jokowi adalah jawaban dari harapan yang bahkan nggak pernah terucap. Saya pernah berandai-andai punya presiden yang sederhana, yang kesannya "terjangkau" sama orang biasa, yang bukan terlahir enak dari sananya. Dan tiba-tiba, muncullah Jokowi. Saya pernah berandai-andai, harusnya, mereka yang mau jadi wakil rakyat atau presiden itu nggak perlu keluar duit banyak-banyak. Kalo rakyat emang suka, mereka bakal didu...

tujuan atau temen jalan?

"kadang, yang terpenting bukan kemana, tapi sama siapa." Hmm, tergantung sebenernya. Ketika tujuan utamanya adalah tempat, gw bakal milih jalan sama yang ada, yang penting bisa sampe tujuan. Kaya misalnya pas ke Semeru. Karena gw bener-bener pengen nyicipin Mahameru, akhirnya gw jalan ke sana sama orang-orang yang sama sekali belum gw kenal. Atau Rinjani. Karena itu adalah salah satu gunung impian, meskipun cuma jalan berdua, kita tetep lanjut. Tapi, ada juga saat dimana kita bilang, "tempat gak gitu lagi penting, yang penting sama kalian". Misalnya pergi ke tempat-tempat yang udah berkali-kali atau pernah dikunjungin. Ada dua kemungkinan, entah tempatnya yang emang favorit, atau temen-temen jalannya yang emang favorit. A: "Lo gak papa kalo kita ke tempat X lagi? Lo doang yang udah pernah." B: "Gak papa. yang penting sama lo-lo pada." Nah, kalo berhasil ke tempat impian untuk yang pertama kali sama temen-temen jalan favorit, ini naman...

Selagi Kau Lelap

Ini dia, salah satu cerpen favorit saya karya Dee dari kumpulan cerpennya, Filosofi Kopi. Sekarang pukul 01.30 pagi di tempatmu. Kulit wajahmu pasti sedang terlipat di antara kerutan sarung bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk di sisi kanan, karena engkau tidur tertelungkup dengan muka menghadap ke sisi kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari di bawah bantal? Aku selalu ingin mencuri waktumu. Menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk ke dalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang berbaring. Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000. Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta padamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap int...