Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Refleksi

Lompat

Saya membuat lompatan kepada hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Lompatan yang begitu jauh yang bahkan ketika saya melihat kembali ke belakang, saya masih dibuat terperangah oleh jarak dalam satu lompatan yang saya ambil. Salah satu keputusan paling berani yang pernah saya buat. Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi. Hidup memberikan banyak pilihan. Kali ini dengan sadar saya memilih jalan yang rumit. Ah, kalau dipikir-pikir sebenarnya tidak melulu rumit. Sama seperti proses pendakian. Mendaki kalau dipikir-pikir adalah proses yang rumit. Perlu meneliti tentang jalur yang akan dilewati, menyiapkan perbekalan, memperlengkapi diri dengan gear  paling nyaman, dan tentu saja menyiapkan fisik dan mental. Segala persiapan matang tidak menjamin perjalanan akan baik-baik saja, banyak hal di luar kendali yang justru menjadi faktor utama. Tapi setidaknya, dengan persiapan terbaik, kita berharap bahwa pendakian paling rumit sekalipun akan berakhir baik, pulang ke rumah, dan ...

Catatan Sabtu Pagi

Kamu manusia, saya juga. Kita sama-sama manusia. Kamu dan saya adalah buah cinta kedua orang tua kita masing-masing, yang kelahirannya dinanti-nantikan dan membawa kebahagiaan bagi semua anggota keluarga. Kita 'dihidupkan' oleh cinta dan sentuhan ibu sejak hari pertama kelahiran. Dirawat dan dididik dengan sungguh-sungguh dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, hingga akhirnya bertumbuh dan menjadi dewasa. Jika ibu yang melahirkan, mendidik, dan mengasihimu sejak hari pertama kelahiranmu saja tidak punya hak sama sekali untuk menyakitimu, apalagi saya yang bukan siapa-siapa. 

Salam Perpisahan

Sekarang Seroja mengerti mengapa salam perpisahan menjadi begitu penting. Diawali dengan pertemuan, kemudian perkenalan yang menyenangkan, saling belajar satu sama lain, tidak sedikit pertengkaran dan banyak kesalahan, sekalipun harus berujung dengan perpisahahan, tetap harus diakhiri dengan baik. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Seroja dan Akar kembali bertemu. Akarnya yang selama tiga tahun terakhir menjadi teman perjalanannya. Akhirnya mereka tiba di persimpangan dan harus melanjutkan perjalanan masing-masing karena tidak lagi satu tujuan. Setelah beberapa bulan tidak bertemu, melihat Akar kembali membuat Seroja mengerti mengapa ia memilih Akar menjadi teman perjalanannya, sekaligus memahami mengapa perjalanan mereka tidak bisa dilanjutkan.  Mereka menghabiskan hari seperti bagaimana mereka menghabiskan akhir pekan selama tiga tahun terakhir, jalan kaki berjam-jam, duduk berjam-jam. S...

Rahasia Anak Kecil

Bagaimana bisa seorang anak kecil menyimpan begitu banyak rahasia? Mengapa ia harus dibungkam atas kesalahan-kesalahan orang dewasa yang tidak berpikir panjang? Orang-orang dewasa memintanya diam. Jangan bilang siapa-siapa katanya. Anak kecil ini menyimpan segala sesuatunya sendirian. Hanya ia dan kotak-kotak rahasianya, yang terus ia bawa seumur hidupnya. Mengapa anak sekecil ini dibebankan hal-hal yang melebihi kapasitas dirinya? Mengapa ia dilecut untuk menjadi dewasa terlalu cepat?  Bukankah seharusnya ia tumbuh dalam kehangatan, kasih sayang, dan rasa aman? Bukankah seharusnya ia tumbuh dalam pengharapan? Kehadirannya seharusnya dirayakan dan dipertanggungjawabkan. Ingat, ia tidak pernah meminta untuk dihadirkan. Saya memeluk anak ini erat-erat. Erat sekali. Bagaimana bisa sekuat itu ia menanggung segala sesuatunya sendirian sampai sejauh ini. Saya katakan kepadanya, " It has nothing to do with you . Bukan tanggung jawabmu atas kesalahan-kesalahan orang dewasa yang terjadi di...

Kartu Pos

Besok sudah Maret. Salah satu bulan yang paling Randu tunggu-tunggu selama beberapa tahun terakhir. Randu selalu suka mempersiapkan kejutan dan hadiah untuk ulang tahun, walaupun ia tahu Akar tidak terlalu menyukainya. Tapi seperti biasa, karena Randu terlalu keras kepala, Randu akan tetap dengan senang hati mempersiapkannya. "Baguskan ini, hadiah dari Randu loh," kata Akar kepada temannya saat mereka sedang bersama-sama. Randu malu setengah mati. Tapi dalam hati, ia sangat gembira karena Akar menyukai hadiahnya. Ini adalah Maret pertama mereka. Hmm, sebentar, mengapa Randu tidak dapat mengingat Maretnya yang kedua. Ia dapat mengingat jelas Maret mereka yang ketiga. Hari yang lezat persis sebelum pandemi dimulai. Salah satu hari terbaik dalam ingatan Randu, di antara begitu banyak hari-hari baik lainnya. Sekarang, Randu dan Akar memiliki maretnya masing-masing. Randu berusaha sekeras mungkin untuk mengambil jarak, memberi ruang seluas-luasnya pada Akar. Ia memutuskan berhenti...

Lebih Dekat dengan Engkau

Engkau tidak takut sekian lama tinggal sendirian? Engkau tidak pernah kesepian? Oh tidak. Mungkin malah sepi yang takut dengan kesendirianku. Bisa engkau jelaskan? Kesendirian bisa sangat berbahaya jika ia tegar dan kuat. Sepi akan limbung, lalu merasa kehilangan alasan kehadirannya karena tidak mendapatkan antagonisnya. -Joko Pinurbo, Telepon Genggam

Mukjizat itu Nyata (?)

“Aku butuh mukjizat-Mu malam ini, tapi bukan untuk mengubah air menjadi anggur, ” katanya lirih sambil menenggak gelas anggurnya yang ketiga. "T olong ubah saja hati dan pikiran kami, agar kami bisa kembali melanjutkan perjalanan bersama-sama. Bersabdalah saja, maka kami akan sembuh," suaranya semakin sayup-sayup. P erlahan-lahan ia terlelap. Berharap esok pagi, mukjizat itu nyata.

Tidak Cukup

Ingatan Seroja sedang terbang ke waktu sekitar lima tahun lalu. Ketika itu, ia dan Jati sedang berbincang santai hingga entah bagaimana akhirnya mereka berakhir di perdebatan besar yang menemui jalan buntu. Perdebatan berawal saat Jati bertanya kepadanya akan kemana perjalanan mereka selanjutnya. Seroja dengan santai menjawab bahwa ia sudah merasa cukup dengan yang mereka jalani sekarang. Semuanya tampak baik, mengapa harus bertanya kemana selanjutnya.  Lima tahun lalu, pernikahan adalah hal yang menakutkan bagi Seroja. Komitmen jangka panjang membuat nyalinya ciut. Ia masih haus petualangan, ingin mencicipi semuanya, ingin terbang setinggi-tingginya. Baginya, pernikahan seperti tali yang akan mengikatnya dan membuat semua geraknya menjadi terbatas. Ia belum siap dan tidak bisa membayangkan dirinya menjalani tahap yang lebih serius dengan Jati. Jati sangat kecewa ketika itu. Ia menganggap Seroja hanya main-main, sementara Jati merasa seusia mereka seharusnya sudah tidak lagi main-m...

I wish

I wish I could do better I wish I was wiser in making decision I wish I could see things with more perspectives I wish I could have better understanding I wish I was smarter to get the bigger picture I wish I was not being reckless I wish I was not this messy I wish I was not this impatient I wish I could being more emphatetic I wish I could being less self-centered I wish I could being more genuine I wish I could always be there I wish I could communicate better I wish I could give better advice I wish I knew the answer I wish it was right I wish the dream was not shattered I wish we could survive this together I wish I could do better and I do really sorry about that

Telanjang

Ibu saya adalah orang yang pandai bergaul. Sejak saya masih kecil, saya tahu ia sudah memiliki banyak teman. Jaringannya luas. Mulai dari ibu-ibu muda, ibu-ibu yang sebaya dengannya, nenek-nenek, sampai abang ojek di pangkalan. Kalau kami jalan kaki dari rumah ke jalan besar untuk naik angkot, banyak sekali yang disapa, bahkan bisa berhenti berkali-kali untuk berbincang sebentar dengan orang yang berpapasan di jalan. Waktu kecil, kalau ia sudah terlalu lama berbincang, saya akan melihat wajahnya lekat-lekat, dan ia langsung akan sadar dan segera pamit dengan orang yang sedang berbincang dengannya. Ibu saya adalah pendengar yang baik. Sejak saya masih kecil, banyak teman-temannya yang datang ke rumah untuk berbincang dan curhat kepadanya. Saya suka mencuri dengar pembicaraan orang tua, dan berkali-kali saya disuruh menjauh agar tidak mendengar obrolan orang dewasa dengan segala keruwetannya. Semakin besar, saya makin menyadari kalau ia hampir selalu menjadi pendengar untuk teman-temanny...

Menyeret

Jika melihat kembali ke belakang, saya sungguh ingin meminta maaf karena telah menyeretmu sampai sejauh ini. Memaksamu untuk berlari sejak perjalanan ini dimulai, padahal mungkin kamu hanya ingin berjalan santai atau berputar-putar. Maafkan saya tidak pernah benar-benar peduli pada kamu yang terengah-engah. Terus mendorong, terus menyeret sampai seluruh tubuhmu penuh luka. Saya tahu kamu sungguh peduli, kamu sungguh mengasihi, hingga kita bisa sampai sejauh ini. Saya pun sungguh mengasihimu, maka saya akan mencoba semampu saya untuk memberimu ruang. Saya akan berhenti menyeretmu. Melepaskanmu. Melepaskan segala harapan tentang perjalanan selanjutnya. 

Pesan Kepada Akar

Akar, bukankah manusia selalu memiliki sisi gelap dan terang, lebih dan kurang, baik dan buruk? Seperti dua sisi mata uang yang tidak akan pernah terpisahkan. Saya gemas karena kamu begitu hafal dan fasih akan segala kekuranganmu, sementara soal kelebihan, kamu mendadak rabun. Mengapa kamu terlalu keras kepada dirimu sendiri?  Oh ya, Akar, karena kita sedang dalam suasana natal, bahkan natal pun mengandung sisi gelap dan terang bukan. Terang karena kelahiran Yesus, tapi ada sisi gelap dimana Herodes memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi tidak berdosa bersamaan dengan kelahiran Yesus. Berkali-kali saya bilang, kamu memiliki hati yang begitu lembut. Jalanmu lurus. Niatmu tulus. Tidak hanya untuk keluarga, tapi juga untuk teman-teman terdekatmu. Sulit rasanya meyakinkanmu, bahwa kami yang mengenalmu, sungguh bersyukur akan kehadiranmu. Semoga kamu bisa merasakan rasa syukur kami, meski kami tidak pernah mengatakannya secara langsung. Akar, ukuran ideal untuk setiap orang saya rasa be...

Jalan Buntu

Saya sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk kemungkinan terburuk. Saya kira saya siap. Ternyata tidak. Sulit sekali ternyata. Mungkin kita memang tidak pernah benar-benar siap, sampai akhirnya kita ada di jalan buntu dan tidak ada pilihan lain selain menyeret-nyeret diri untuk menjadi siap. Berbekal pelajaran dari perjalanan sebelumnya, di perjalanan ini saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan - kesalahan yang sama dan lebih disiplin pada apa yang saya anggap baik dan benar. Sejak awal, saya sudah menyampaikan apa yang saya harapkan dan memastikan bahwa kami punya prinsip yang sejalan. Saya berusaha menghindari kerumitan-kerumitan yang tidak perlu, sama sekali tidak tertarik untuk menyerempet bahaya, dan fokus pada hal-hal yang esensial. Ternyata membuahkan hasil. Perjalanan kali ini jauh lebih baik.  Tapi sayang, perjalanan yang baik dan menyenangkan ternyata bisa berakhir di jalan buntu juga. Ya, kami sekarang berada di jalan buntu. Perasaan saya m...

Berbagi Teritori

Kapan terakhir kali kamu melakukan suatu hal untuk yang pertama kali? Randu akan dengan mudah menjawabnya. Beberapa minggu lalu, berkunjung ke rumah Akar. Saling berkunjung ke rumah orang terdekatmu mungkin adalah hal yang biasa bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi Akar dan Randu. Terbukti dari beberapa tahun terakhir, mereka baru sekali saling berkunjung.  Sejak awal, Randu sudah tahu bahwa Akar adalah orang yang sangat rapi. Akar menata isi tasnya dengan sangat apik. Semua barang-barangnya tertata rapi dan ia selalu berhasil menemukan dengan mudah barang-barang kecil yang ada di tasnya. Bertolak belakang dengan Randu yang sering kali merasa kehilangan barang, tapi kemudian menemukan barangnya yang hilang di tasnya sendiri berbulan-bulan kemudian.  Randu sudah bisa membayangkan bagaimana rapinya rumah Akar, tapi saat ia berkunjung hari itu, rumah Akar jauh lebih rapi dari yang Randu bayangkan. Ia membayangkan Akar yang tinggal sendiri kemudian membersihkan dan merapikan sem...

Hash!

Selepas mandi tengah malam saya bercermin. Saya menuding wajah yang tidak henti-hentinya berjerawat, padahal sudah dirawat dan minum obat. Saya mempertanyakan gigi bungsu yang nyeri, padahal sudah rutin kontrol dan tidak ketinggalan sikat gigi pagi hari dan sebelum tidur. Tidak lupa saya menegur rambut, yang tetap berminyak dan berketombe meski sudah rajin keramas. Saya sempat sedikit terkejut saat beberapa helai rambut putih menyeringai pada saya. Tamu tak diundang, bisik saya kepada mereka. Saya berkali-kali bertanya pada hidung mengapa begitu sensitif. Dingin sedikit, bersin. Aroma menyengat sedikit, bersin. Debu sedikit, bersin. Bangun tidur, bersin. Mau tidur, bersin. Oh bersin, kenapa kamu menjadi seperti bayang-bayang saya. Ada saya, ada bersin. Hash! Sepertinya bersin tahu ia sedang jadi bahan pergunjingan, barusan saya bersin ketika sedang menuliskan ini. Heh, bulu kaki! Kamu tidak akan luput dari umpatan saya. Kenapa, kenapa harus tumbuh lebat? Tidak tahukah kamu bahwa tidak ...

Badai Pasti Berlalu, Terang Pasti Datang

source: https://www.artsdistrictchorale.org/events/light-darkness-stars-vastness-heavens/ Habis gelap, terbitlah terang . Badai pasti berlalu . Slogan penyemangat yang begitu sering bergaung. Permasalahannya, bertahankah kita sampai saat terang itu tiba? Bertahankah kita sampai badai akhirnya berlalu? 2012 saya mengalami masa-masa yang rasanya mengerikan. 2017 saya mengalami hari-hari yang lebih mengerikan. Ah, mungkin bukan mengerikan, tapi “tahun sulit”. Siklus lima tahunan? Entahlah. Masih terbayang jelas dalam ingatan tentang masa-masa itu. Ketika siang, saya berharap malam segera tiba agar saya bisa tidur dan tidak usah sibuk bersosialisasi. Saya pun merasa lelah sepanjang hari. Ketika senja, saya begitu takut membayangkan harus kembali ke kamar dan bergulat dengan kesendirian. Ketika malam, saya terjaga dalam gelap dengan mata nyalang dan terisak dalam hening. Pekat malam mendistorsi kenyataan menjadi hal yang jauh lebih buruk dari sebenarnya dan memunculkan ide-ide y...

Jalur Pulang

Katanya, cuma orang gila yang terus melakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Hmm, sekarang bayangkanlah kalau kamu sedang tersesat. Kamu mencari jalan pulang dengan mengulangi lagi jalan yang telah kamu ambil, berkali-kali, tanpa ada modifikasi sama sekali. Bisakah kamu pulang? Saya bagian dari yang mereka sebut gila. Sekarang saya melihat ke belakang dan mencatat baik-baik salah jalur yang pernah saya ambil hingga membuat saya ada di tempat berdiri sekarang. Pernah melewati jalur yang luar biasa indah, tapi ternyata membawa saya pada bibir tebing dan membuat saya hampir mati. Pernah juga melewati hutan gelap dan lembab, tidak ada pemandangan lain selain jalan setapak yang menanjak dan penuh semak. Rupanya jalur ini membawa saya pada pemandangan matahari terbit terbaik.  Begitu banyak percabangan di depan. Bukan tidak mungkin salah dan gagal lagi. Setidaknya berani berubah dan mengambil jalur baru, sambil berharap bisa pulang, di saat yang tepat.

Tentang Memberi Arti

Pernahkah kamu membayangkan ada miliaran orang di luar sana. Yang paling menakjubkan adalah setiap orang sedang menjalani cerita mereka masing-masing di lintasannya masing-masing. Artinya ada miliaran lintasan, ada miliaran cerita. Sekalipun kadang ada lintasan yang bersinggungan, tetap saja lintasan itu unik bagi tiap orang, seperti DNA. Setiap orang memiliki kebahagiaan, permasalahan, dan perjuangannya sendiri. Dari Paus Fransiskus, Donald Trump, Presiden Jokowi, Fadli Zon, Gubernur Jakarta, Liam Neeson, Ketua BEM UI, Butet Manurung, Ayu Utami, bapakmu, ibumu, adikmu, sahabatmu, atasanmu di kantor, dosen favoritmu, kenalan lamamu, mantan kekasihmu, kekasihmu, abang gojek yang kamu tumpangi hari ini, pengemis penyandang disabilitas yang kamu lihat hari ini, abang bakso yang suara mangkok lirihnya kamu dengar dari kejauhan, supir taksi yang mengeluh padamu tentang penumpang yang makin sepi, bayi yang ditinggalkan oleh orang tuanya, dan masih banyak lagi. Bayangkan setiap orang, mu...

Doakan Saja yang Terbaik Untuk Mereka

source of picture: https://www.desiringgod.org/interviews/if-i-fail-to-forgive-others-will-god-not-forgive-me Tuhan bersifat universal, begitupun kasih. Karena Tuhan sendiri adalah kasih. Yang bersifat universal mampu melampaui sekat apapun, tanpa syarat, tanpa pandang bulu. Kasih melampaui sekat-sekat agama, ras, bahkan spesies sekalipun. Ketika kamu mengasihi seseorang, kebahagiannya adalah kebahagiaanmu. Sedihnya adalah sedihmu. Kamu akan mendoakan semoga segala yang terbaik akan terjadi pada orang yang kamu kasihi. Seorang teman mengatakan pada saya malam ini, "doakan saja yang terbaik buat mereka." Tiba-tiba ada bagian dari jiwa saya yang terbuka. Hal yang selama ini tidak saya sadari. Mungkin selama ini yang lebih saya kasihi adalah diri saya sendiri. Sublimasi dari rasa egois saya yang seolah-olah saya proyeksikan sebagai rasa kasih saya kepadanya. Butuh perjalanan panjang untuk sampai pada tahap ini dan saya tahu akan terus berproses. Begitu banyak keputusa...

Tujuan

Setiap keputusan yang diambil seharusnya mengarah pada suatu tujuan. Mengingat apa tujuan tersebut menjadi begitu penting agar ketika ada banyak tawaran di sepanjang perjalanan, semua dikembalikan kepada tujuan. Tawarannya bisa menjadi sangat menggoda, terlihat begitu indah, terasa begitu menjanjikan. Tujuan menjadi dasar: 1. Untuk mengambil tawaran itu, atau 2. Melewatinya karena tidak sesuai dengan tujuan. Proses melewatinya bisa tidak sesederhana itu. Perlu latihan untuk mengingat kembali bagaimana tujuan itu dibuat. Pertimbangan apa yang diambil. Proses apa yang dilalui. Tujuan harus begitu kuat karena segala upaya yang kita lakukan akan mengarahkan kita kesana. Jika tujuannya salah? "Jika suatu hari saya mulai bosan dan mulai kehilangan arah, tulisan ini yang akan kembali menguatkan saya mengapa saya ada di jalur saya yang sekarang. Mengapa saya memutuskan untuk memilih jalan ini, bukan yang lain,"  Saya menulis demikian di catatan harian ketika saya membuat suat...