Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Fiksi

Roller Coaster

http://mentalfloss.com/article/503373/12-secrets-roller-coaster-designers Saya selalu tersenyum, ah lebih dari tersenyum, saya bahkan tertawa sendiri setiap mengingat momen itu. Momen saat kita naik roller coaster.  Melihatmu, seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu. Saya sungguh mengerti apa yang kamu rasakan. Dimulai dengan keraguan untuk menaiki wahana dan ketakutan untuk mencoba. Sempat ingin menyerah saja, tapi dorongan untuk mengetahui sensasinya jauh lebih besar. Ketika mulai menaiki tangga wahana, degup jantung makin tidak teratur. "Jantungku tidak karuan," katamu berbisik, takut terdengar anak kecil di depan yang sama sekali tak gentar. Saya hanya membalas dengan tersenyum, membiarkanmu berproses. Saya mencoba memutar ulang semuanya, kembali hadir menjadi penonton. Kamu seperti anak kecil yang ingin tahu, tak henti bertanya dan memberikan komentar spontan yang ingin membuat saya tergelak. Saya seperti menonton film komedi. Akhirnya kita me...

Lapar

Kemarin kamu membatalkan sepihak. Hari ini, kamu, lagi-lagi secara sepihak, mengubah rencana besok menjadi hari ini. Kamu otoriter. Ah, saya mendadak kehilangan selera menonton monyet-monyet itu. Kita tidak jadi nonton. Alih-alih, saya mengajakmu ke tempat makan favorit saya dengannya. Antriannya panjang. Seperti biasa, secara sepihak, kamu memutuskan untuk menunggu. Ah, padahal, saya sudah lapar sekali. Orang lapar biasanya akan menunjukkan dirinya yang sebenernya, termasuk saya. Saya mulai mengomentari hal-hal tidak penting. Mulai memberikan ekspresi tidak menyenangkan untuk apa yang berlalu lalang di hadapan saya. Selera humormu yang buruk pun jadi tidak bisa lagi ditoleransi. Akhirnya namaku dipanggil. Menu diberikan. Kita memilih-milih menu. "Kalau kami dulu biasanya makan sambal mangga muda," kataku tanpa filter. "Jangan, nanti keguguran," jawabmu asal. Raut wajahmu terlihat berubah, tidak bisa kamu sembunyikan. Saya kembali mengomentari hal-hal yang tidak...

Genangan

https://pixabay.com/en/macro-puddle-rain-raindrops-71261/ aku berjalan. menikmati malam. jalanan masih basah karena hujan. kulihat jalan menuju rumahmu yang tidak pernah lagi aku lalui. kulihat mobil antik hijau tua pekat. rupanya platnya tidak sama dengan milikmu. kulihat tempat ngopi yang biasa kita kunjungi tiap minggu malam. tempat itu kini kosong. ada banyak genangan. dengan hati-hati aku berjalan menghindarinya. berharap genangan ini tidak perlu mengotori kakiku. satu genangan, dua genangan, lima genangan, seratus genangan, tiga ribu lima ratus tujuh puluh sembilan genangan. Ahhh, ternyata menghindari genangan sangatlah melelahkan. kuputuskan untuk menghampiri genangan itu satu persatu. genangan kenangan. kenangan yang menggenang. ada yang dangkal. ada yang dalam. ada yang keruh. ada yang jernih. genangan selama hampir dua dasawarsa. waktu tidak pernah berhenti. tidak seperti aku dan kamu, yang hanya tinggal kenangan, yang menggenang.

Cangkang

Ini pertama kalinya aku mendengarmu terisak. Aku terdiam sambil menunggu isakmu reda. Aku mendengar kemarahan, aku bisa merasakan penyesalan, aku menangkap kepura-puraan yang selama ini kamu sembunyikan. Aku bisa merasakan itu semua bahkan tanpa melihat matamu yang sembab. Hampir semua yang melihatmu akan menyangka bahwa kamu sosok yang sangat keras sekaligus terlalu tenang. Kamu seperti sebatang pohon di jalur pendakian sembalun. Sendiri, aneh, tapi anggun dengan caramu yang tidak lazim. Aku kehilangan. Hanya dua kata itu yang terucap olehmu. Aku meresponmu dengan memunggungimu lalu aku jatuh tertidur. Pagi-pagi sekali aku terbangun. Kamu masih lelap tertidur. Ini pertama kalinya aku melihatmu tanpa cangkang. Aku tersenyum, bersyukur bahwa aku tidak lagi dianggap sesuatu yang bisa menyakitimu. Aku kembali masuk ke dalam cangkangku yang sudah lama sekali tidak pernah aku lepas. Kembali tertidur pulas.

Senja dalam Kotak

Aku duduk termenung, memandangi kotak yang isinya sudah tidak lagi karuan. Bentuknya satu setengah tahun yang lalu sangat cantik dan indah. Keegoisan, kebohongan, dan perbedaan meluluh-lantakkan bentuk aslinya. Kami berdua merusaknya tanpa ampun. Aku memanggil Alam, meminta bantuannya untuk ikut merapikan isi kotak ini. Kami saling menatap, berharap menemukan bayangan bentuk aslinya di kedalaman mata masing-masing. Kami uraikan satu-persatu. Keegoisan yang menempel lekat kami coba lepaskan. Bentuknya terlihat membaik meski warnanya masih berantakan dan terpisah menjadi dua keping. Aku mengambil pewarna dari lemari. Pewarna ini berlabel "Maafkan!". Kami mewarnai isi kotak yang terbelah dua itu, sesuka hati kami, menutup warna "kebohongan" yang begitu tebal. Milik Alam warna biru laut, sedangkan punyaku ku warnai jingga keemasan. Kami saling bertukar, menerima potongan satu sama lain dengan sukacita. Kami saling memaafkan. Kami mencoba menggabungkan potongan ...

Amplop

Alam memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan, tepat di depan warung kelontong. Aku turun membeli amplop. Dia memberiku beberapa lembar uang sekaligus pulpen. Kami akan segera menghadiri pernikahan sahabat Alam. “Kamu terbiasa menulis namamu di amplop?” Aku bertanya kepadanya heran. Aku kira hanya generasi ibuku yang masih menjalani tradisi ini. “Adatnya memang demikian, Raya. Kamu menulis namamu disitu agar mereka tahu. Jadi suatu hari kamu mengadakan acara serupa, mereka tahu harus memberi berapa,” katanya sabar. Aku mendengar alasan yang persis sama dari ibuku ketika aku protes padanya tentang mencantumkan nama di amplop. Ibuku masih menjalani kebiasaan ini. “Itu namanya pamrih dong. Mereka harus mengembalikan yang telah kita berikan. Jadi, mereka malah berhutang kepada kita. Kalau kita ikhlas memberi, kenapa kita harus menulis nama disitu?” aku memberondongnya dengan pertanyaan. “Kebiasaan di tempat kita, jika ada orang yang mau mengadakan acara, biasa...

Lintasan Ungu

Aku sedang berada di lintasan ungu, lintasan yang selama ini tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Lintasan ini adalah lintasan yang paling ramai, banyak orang yang aku kenal disini. Dua sahabatku sudah melambaikan tangan di ujung jalan sana, aku hanya membalas dengan senyum yang ragu. Mereka tampak berbahagia.  Ada banyak lintasan disini. Ada lintasan merah dan hitam yang sejajar tanpa pernah bersinggungan sedikitpun, ada lintasan hijau dan ungu yang bertemu di suatu titik, ada lintasan yang melingkar tanpa ujung, dan masih banyak lintasan lain dengan warna yang berbeda, warna lintasannya lebih beragam dari warna pelangi. Aku berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk melihat sudah sejauh apa lintasan yang kulalui. Kulihat sekeliling. Ah, aku rindu lintasan cokelatku. Sebelumnya aku berada di sana sendiri, tidak ada satupun yang aku kenal, tapi anehnya aku tidak pernah merasa asing dan sendirian. Aku merasa aman dan yakin di sana. Lalu bagaimana aku bisa berada ...

Bau Karbit

http://wallpaperswide.com/road_to_nowhere-wallpapers.html Dua puluh tahun bersama, aku tidak pernah bosan memandangi Alam yang sedang terlelap. Tidurnya pulas dan wajahnya begitu polos, penuh kedamaian, persis seperti Air ketika bayi dulu, yang terlelap selesai menyusu. Masih kupandangi wajahnya sambil kuusap alisnya. Di usianya yang sudah setengah abad, Alam masih tetap jadi kebangganku seperti dua puluh tahun yang lalu. Alisnya masih tebal, senyum menggodanya tidak pernah berubah, dan tatapan tajamnya masih sama. Tidak banyak yang berubah dari Alam selain rambut ikalnya yang kian memutih dan guratan halus di wajahnya yang semakin banyak. Alam adalah keajaiban yang aneh untukku. Kalau aku boleh meminjam Puisi Soe Hok Gie, aku akan pinjam potongan puisinya yang berisi, “Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.” Sekilas terdengar picisan, tapi memang itu yang aku alami bersama Alam. Kami selalu berdebat, mulai dari hal yang sepele seperti perdebatan dala...

Si Kecil

Ada penghuni baru tidak diundang di tubuhku. Kehadirannya terlalu kecil untuk aku sadari. Hanya gejalanya yang makin lama makin terasa. Aku menamainya Si Kecil. Si Kecil yang membuatku bisa menghabiskan waktu bersama ibu di dapur berjam-jam sambil berbincang panjang. Ya, di dapur, bukan di beranda, karena malu bila sampai ketahuan tetangga. Si Kecil yang membuatku bisa kembali tertidur di pangkuan ibu seperti masa kecil dulu. Ibu akan menelusuri setiap helai rambutku dan beliau bahagia bukan main bila bisa merasakan gerakan Si Kecil. Bau daster ibu, belaian tangannya, dan kepalaku yang terkulai di pangkuannya, membuatku tertidur lelap seperti bayi selesai menyusu, tanpa takut, tanpa khawatir. Ibu ingin aku tetap memelihara Si Kecil, sementara aku bertekad untuk tidak mempertahankannya. Si Kecil adalah parasit untukku. Secara tidak langsung, dia memakan apa yang aku makan. Teman-teman, tetangga, dan siapapun yang mengetahui bahwa aku hidup bersama Si Kecil pasti akan jijik ...

Rumit

Aku menyukaimu sejak kita masih anak-anak. Aku menyukaimu seperti aku suka mandi hujan, seperti aku suka berlari, dan seperti aku suka belajar matematika. Tidak butuh alasan untuk suka mandi hujan, berlari, dan belajar matematika, mereka seolah sudah tertulis di DNA ku. Serupa itulah aku menyukaimu, sudah tertulis di DNA ku juga sepertinya. Anak – anak tidak peduli pada kerumitan, tidak bisa berpikir panjang, dan menyukai hal yang spontan. Aku tidak peduli bahwa doa yang harus kita hafal ternyata berbeda, kamu harus hafal Al-Fatihah sedangkan aku harus hafal Bapa Kami. Aku sangat bersyukur bahwa aku bisa bertemu denganmu selama hampir setiap hari selama lima tahun. Aku gembira saat berlari bersamamu mengejar lawan untuk menjaga benteng kita. Aku menyukaimu dengan sederhana, spontan, dan tanpa kerumitan. Tahun berlalu, aku dan kamu tumbuh dewasa, dan kita kembali bertemu, saat kamu sudah bersama calon pasangan hidupmu. Orang dewasa menyukai kerumitan, sudah bisa ber...