Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Sepotong Malioboro

Tak seramai biasanya Ada yang mengintai di balik udara Memantau tubuh mana yang kira-kira bisa ia singgahi Kuda meringkik Meminta pulang kepada tuannya Setelah seharian lelah menunggu dengan jemu "Bersabarlah. Tak hanya dirimu yang menunggu, kudaku. Anak istriku juga menunggu." Seorang ibu pedagang sedang dipijiti temannya. Masuk angin, angin jahat sepertinya. Mahasiswa-mahasiswa dengan seksama menggambar. Mencoba menangkap sepotong Malioboro di atas kertas. Saya terus berjalan.  Membelah Malioboro. Merekamnya dalam ingatan. Daya hidup yang demikian besar menjadi potret yang paling jelas. Daya hidup orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada sepotong Malioboro Semoga daya hidup mereka menyublim menjadi imunitas terbaik Membuat yang mengintai di balik udara segan untuk singgah apalagi menetap

Bergulung

Saya sedang bergulung. Saya berharap dengan bergulung, rasa sakit yang mengintai dari luar tidak akan bisa menembus inti diri. Saya berharap dengan bergulung, seluruh bagian tubuh saling berkait dan menjaga saya untuk tetap utuh.  Aku mendapatinya sedang bergulung. Di sudut malam yang pekat.  Kuputuskan untuk menemaninya, melalui malam-malam tergelap. Saya melihatnya datang menghampiri. Saya masih sibuk bergulung. Sambil tergugu.  Maaf, saya tidak punya energi untuk bercerita.  Aku tidak berharap ia bercerita.  Bergulung sudah pasti menguras energi. Terlebih ditambah tergugu. Jadi kubiarkan ia bergulung. Kutemani dia. Tanpa pertanyaan. Tanpa penghakiman.  Ia rebah di sebelah saya yang sedang bergulung. Menatap langit-langit sambil sesekali melihat ke arah saya. Memberikan sedikit senyuman di ujung bibirnya. Ah, saya masih terlalu fokus dengan sedu sedan saya. Aku tidak punya solusi.  Aku payah dalam memberikan saran. Bahkan aku tak pandai berkata-kata....

Berkenan

Semesta mempertemukan Tidak ada yang menggebu Tidak ada yang terlalu Tidak berlebihan tentang masa lalu Tidak juga terlalu berangan tentang masa depan Kita berjalan bersisian Sesekali sibuk dengan masing-masing pikiran Kemudian mendarat pada kenyataan Bahwa hening pun terasa nyaman Kita berlari beriringan Sesekali terpisah dari barisan Kemudian bertemu lagi di depan Sambil saling menyambut dengan segaris senyuman Spontanitasmu mengingatkan saya pada ketulusan anak-anak, menggembirakan Canggungmu mengingatkan saya pada remaja tanggung yang malu-malu, menggemaskan Sabarmu mengingatkan saya pada sebatang pohon rindang di savana gersang, meneduhkan Tenangmu mengingatkan saya pada hening panjang di jalur Argopuro, mendamaikan Belajar.. Menerima segala keterbatasan Mendampingi dalam kesederhanaan Mengasihi untuk saling membebaskan Dan semoga.. Semesta memperkenankan.

Bersabdalah!

Bus melaju diantara senja yang sedang berpacu dengan waktu Jingganya yang magis tidak hanya perlahan menyapu badan bus Tetapi juga menyapa pikiran yang sedang tandus Rumah dengan pekarangan luas terlewati sesekali dalam rentang waktu tertentu Di antara hutan-hutan yang membisu Menghabiskan waktu disini mungkin rasanya akan lebih lambat? Tidak perlu tergesa, karena hidup pun akan selesai ketika tiba saatnya Perlahan, terbayang menua disini bersama tenangmu Riakmu yang jarang muncul menjadi bukti Bahwa kedalamanmu tidak perlu diragukan Aah, aku ingin tenggelam dalam ketenanganmu Diantara desa yang senyap, yang hanya sesekali bersuara k arena gemerisik daun yang tertiup angin Tenangmu membuatku lebih mudah bercermin Menemukan pantulan diriku sesungguhnya Saat itulah aku sadar, aku compang-camping dan pontang-panting Layakkah aku? Tidak. Karena tidak seorangpun layak bagi yang lain. Tetapi, Bersabdalah saja, maka aku akan sembuh.

Di Kereta Menuju Jogja, Tepat Pukul Lima

Ada momen yang begitu nyaman untuk terlelap Misalnya saat berada di kereta menuju Jogja, tepat pukul lima Saat matahari mulai menyinari harapan petani yang sedang menguning Juga menghangatkan jiwa-jiwa kami yang mulai dingin Ada momen yang begitu nyaman untuk terlelap Misalnya saat berada di kereta menuju Jogja, tepat pukul lima Diiringi penyair jalanan yang menyanyikan rima Membawakan syair entah karya siapa Ada momen yang begitu nyaman untuk terlelap Misalnya saat berada di kereta menuju Jogja, tepat pukul lima Bersama teman-teman seperjalanan Yang diam-diam tidak pernah merasa sejalan Kereta tiba di Stasiun Lempuyangan Yang terlelap bangun tergesa memungut impian Kereta sudah sampai Tapi perjalanan belum selesai

Sajak Pertama Untukmu

Senja merah muda dan semut-semut sedang termenung. Mereka mendengarkan perbincangan dua orang canggung yang sesekali terselip dengung. Rumput-rumput meliuk bingung. Sepakat. Bahwa persamaan adalah berkat. Perbedaan adalah rahmat. Dan perjuangan adalah hakikat. Tidak perlu terlalu cepat. Tidak juga menjadi terlambat. Biarlah semua pada waktu yang tepat. Lihatlah, hening mulai menari. Rasakan pula damai yang turut bernyanyi. Perlahan, langit pun turut berseri. Angin sore menyapa mereka sambil berbisik: "Iman, Pengharapan, dan Kasih. Yang terbesar diantaranya adalah kasih."

Nyalang

Kita bersebelahan. Ada hening yang begitu panjang. Matamu nyalang. Kudengar tarikan napasmu yang dalam dan panjang, dan kemudian kamu lepaskan dengan tergesa. Seperti berusaha mengambil segala yang ada di dalam hatimu, lalu ingin buru-buru membaginya ke udara.  Ku putuskan untuk memelukmu. Tubuhmu terguncang. Menangis tergugu. Kueratkan pelukanku. Berharap retakan-retakanmu tidak sampai membuatmu pecah.  Semoga pelukan menyembuhkan. Sayang, percayalah bahwa akan ada satu pagi, dimana ketika kamu bangun, kamu kembali merasa utuh, penuh. Sekarang, tidurlah.

Kenangan

Kenangan membeku Dalam bingkai ruang dan waktu Melayang-layang di sudut kamar gelap Memandangimu yang sedang terlelap Kamu menggigil  Dipeluk kenangan  Yang semakin dingin Kenangan semakin beringas Menyelimutimu sampai tidak mampu bernapas Kamu mati  Sebagai ampas

Sebotol Bir Tanpa Bukaan

sebotol bir tanpa bukaan botol katamu wanita harus a sampai z lalu pria tidak bisa menemukan satu cara bagaimana membuka sebotol bir tanpa pembukanya? katamu.. perempuan harus bisa masak perempuan harus mengurus anak perempuan tidak bagus merokok perempuan harus a sampai z kataku.. perempuan jika bisa memasak, bagus laki-laki bisa memasak, bagus manusia bisa memasak bagus. Ya, manusia, bukan hanya perempuan atau hanya laki-laki kataku.. perempuan harus mengurus anak laki-laki harus mengurus anak orang tuanya yang terdiri dari perempuan dan laki-laki harus mengurus anak, bersama-sama kataku.. merokok tidak bagus untuk kesehatan perempuan merokok tidak bagus untuk kesehatan laki-laki merokok tidak bagus untuk kesehatan manusia ya, manusia. perempuan dan laki-laki. tidak hanya salah satunya saya percaya pembagian peran yang seimbang saya percaya ada kodrat yang tidak bisa dilanggar tapi saya juga percaya bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sa...

Kembali

Saya pamit pergi Mungkin tidak kembali Lalu singgah di beberapa tempat Menemukan banyak hal baru Menyadari kesalahan yang saya buat Belajar ini dan itu Kembali Rekonsiliasi Tidak bisa lagi berjuang dengan cara yang sama Jika mengharapkan hasil yang berbeda Perlahan, saya mengetuk pintumu Kamu sedang duduk menanti "Saya percaya kamu akan kembali.." "Akhirnya saya sadar bahwa saya harus kembali.." 6 Sep 2017 00.30

Lagu Sunyi

Lagu sunyi perlahan mengalun Malam dan gelap mulai menari Kau masih duduk di sudut, sendiri Aku ingin mengajakmu berdansa, kasihku Kemarilah, Kita menari bersama malam dan gelap Mengikuti alunan irama sunyi Menarilah tanpa ragu, Karena hanya ada aku, kau, gelap, dan malam Mendekatlah, biarkan aku menghirup aromamu Seperti malam yang menghirup gelap sampai fajar tiba Malam dan gelap kini saling bercumbu Aku dan kamu berada dalam satu sumbu Sementara sunyi, semakin memburu

Lelaki Tua yang Alergi pada Malam

http://vignette2.wikia.nocookie.net Ada lelaki tua yang sedang alergi pada malam Ia mulai dilanda bersin-bersin hebat saat fajar mulai tenggelam Ia mulai berpikir apa yang salah pada malam Selain menyusup bersama kelam dalam tilam Ada lelaki tua yang sedang alergi pada malam Ia mulai ingusan saat malam mencumbunya Malam membawa sesal beterbangan di udara kamarnya Lalu terhirup masuk memenuhi rongga hidungnya Ada lelaki tua yang sedang alergi pada malam Ia mulai batuk-batuk saat jangkrik mulai berkerik Riuh jangkrik menciptakan sepi Masuk ke dalam paru-parunya bersama sesal yag tak tersaring Ada lelaki tua yang sedang alergi pada malam Bersin-bersin, ingusan, dan terbatuk di sudut kamar, sendirian Malam tertelan, perlahan mengkristal menjadi luka jiwa Lalu mengendap entah sampai kapan Ada lelaki tua yang sedang alergi pada malam Ia tertelan malam, lenyap bersama senyap Ada sisa upil kenangan yang berhasil tersaring oleh bulu hidungnya Ditemukan berserakan di ...

Rindu

Saya rindu kamu. Saya rindu bersandar di punggungmu yang kaku, yang tak bernah mengaduh pada setiap keluh. Saya rindu berada di pelukanmu yang begitu dingin. Dinginmu yang membuat saya sadar bahwa kehidupan ini ternyata begitu menghangatkan. Saya rindu menelusurimu yang begitu hening. Heningmu membuat saya sadar bahwa keriuhan terbesar ada di kepala saya sendiri. Menelusurimu seperti menemukan jalan pulang, berdendang dalam tenang. Saya rindu terlelap di dekat jantungmu. Detakmu yang menyadarkan saya bahwa waktu akan terus berlalu, tak perlu terburu-buru. Kamu tidak menjanjikan perjalanan yang menyenangkan. Tidak juga menjanjikan matahari akan terbit tanpa awan ketika fajar. Kamu tidak menjanjikan semesta akan bersahabat. Ah, saya rindu kamu, kamu yang tidak pernah menjanjikan apapun, kecuali dirimu sendiri. Kamu tidak pernah pergi, saya yang belum bisa kembali. Semoga kamu mengerti.

15.768.000 detik

setidaknya sudah selama 15.768.000 detik sejak terakhir saya melihat matamu. saya berharap, detik itu segera berhenti. sesegera ketika dulu kamu pergi. sesegera saya yakin bahwa kamu orangnya. saya memutuskan menjejaki banyak tempat. dan pikiran saya menemukan jejakmu di setiap tempat yang saya datangi. saya muak. saya mulai ragu dan mempertanyakan. apakah semesta yang memang tidak menginginkan? atau hanya kamu yang memang tidak benar-benar menginginkan? dan kenapa hanya saya yang benar-benar menginginkan? saya berhenti mengharapkan pertemuan. saya berhenti merindukan. saya berhenti menginginkan. saya melepaskan. saya kira. logika saya mengatakan mustahil. tapi hati kecil saya masih keras kepala rupanya. dia masih yakin, bahwa kamu orangnya. logika menjadi iba pada hati kecil. semoga hati kecil itu, bisa berbesar hati pada akhirnya. jika ternyata, keyakinannya tidak pernah terbukti.

mezzanine

ada kumpulan nenek renta di lorong tangga mereka ingin turun dari lantai 98 ke mezzanine saya berdiri di belakang mereka, memandangi dengan suram. mereka berjalan tergopoh-gopoh, tersengal berhasil menuruni satu anak tangga seperti berhasil menipu penjaga neraka. ada pesta besar di mezzanine! semua orang diundang, tidak terkecuali saya dan para nenek renta ini. "antriiiiiii!!" mereka teriak sambil membelalak galak ketika saya bilang permisi. ah! ingin rasanya saya dorong mereka sampai kami semua jatuh terhuyung-huyung terguling sampai mezzanine. sial, kenapa saya harus terjebak di sini bersama mereka. ada pintu keluar dari lorong ini sedikit lagi, ke lantai 97. bagaimana kalau saya menjatuhkan diri saja ke balkon mezzanine? ide bagus!