Kemarin kamu membatalkan sepihak. Hari ini, kamu, lagi-lagi secara sepihak, mengubah rencana besok menjadi hari ini. Kamu otoriter. Ah, saya mendadak kehilangan selera menonton monyet-monyet itu. Kita tidak jadi nonton. Alih-alih, saya mengajakmu ke tempat makan favorit saya dengannya. Antriannya panjang. Seperti biasa, secara sepihak, kamu memutuskan untuk menunggu. Ah, padahal, saya sudah lapar sekali. Orang lapar biasanya akan menunjukkan dirinya yang sebenernya, termasuk saya. Saya mulai mengomentari hal-hal tidak penting. Mulai memberikan ekspresi tidak menyenangkan untuk apa yang berlalu lalang di hadapan saya. Selera humormu yang buruk pun jadi tidak bisa lagi ditoleransi. Akhirnya namaku dipanggil. Menu diberikan. Kita memilih-milih menu. "Kalau kami dulu biasanya makan sambal mangga muda," kataku tanpa filter. "Jangan, nanti keguguran," jawabmu asal. Raut wajahmu terlihat berubah, tidak bisa kamu sembunyikan. Saya kembali mengomentari hal-hal yang tidak...