Skip to main content

Posts

Sajak Pertama Untukmu

Senja merah muda dan semut-semut sedang termenung. Mereka mendengarkan perbincangan dua orang canggung yang sesekali terselip dengung. Rumput-rumput meliuk bingung. Sepakat. Bahwa persamaan adalah berkat. Perbedaan adalah rahmat. Dan perjuangan adalah hakikat. Tidak perlu terlalu cepat. Tidak juga menjadi terlambat. Biarlah semua pada waktu yang tepat. Lihatlah, hening mulai menari. Rasakan pula damai yang turut bernyanyi. Perlahan, langit pun turut berseri. Angin sore menyapa mereka sambil berbisik: "Iman, Pengharapan, dan Kasih. Yang terbesar diantaranya adalah kasih."

Jalur Pulang

Katanya, cuma orang gila yang terus melakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Hmm, sekarang bayangkanlah kalau kamu sedang tersesat. Kamu mencari jalan pulang dengan mengulangi lagi jalan yang telah kamu ambil, berkali-kali, tanpa ada modifikasi sama sekali. Bisakah kamu pulang? Saya bagian dari yang mereka sebut gila. Sekarang saya melihat ke belakang dan mencatat baik-baik salah jalur yang pernah saya ambil hingga membuat saya ada di tempat berdiri sekarang. Pernah melewati jalur yang luar biasa indah, tapi ternyata membawa saya pada bibir tebing dan membuat saya hampir mati. Pernah juga melewati hutan gelap dan lembab, tidak ada pemandangan lain selain jalan setapak yang menanjak dan penuh semak. Rupanya jalur ini membawa saya pada pemandangan matahari terbit terbaik.  Begitu banyak percabangan di depan. Bukan tidak mungkin salah dan gagal lagi. Setidaknya berani berubah dan mengambil jalur baru, sambil berharap bisa pulang, di saat yang tepat.

Tentang Memberi Arti

Pernahkah kamu membayangkan ada miliaran orang di luar sana. Yang paling menakjubkan adalah setiap orang sedang menjalani cerita mereka masing-masing di lintasannya masing-masing. Artinya ada miliaran lintasan, ada miliaran cerita. Sekalipun kadang ada lintasan yang bersinggungan, tetap saja lintasan itu unik bagi tiap orang, seperti DNA. Setiap orang memiliki kebahagiaan, permasalahan, dan perjuangannya sendiri. Dari Paus Fransiskus, Donald Trump, Presiden Jokowi, Fadli Zon, Gubernur Jakarta, Liam Neeson, Ketua BEM UI, Butet Manurung, Ayu Utami, bapakmu, ibumu, adikmu, sahabatmu, atasanmu di kantor, dosen favoritmu, kenalan lamamu, mantan kekasihmu, kekasihmu, abang gojek yang kamu tumpangi hari ini, pengemis penyandang disabilitas yang kamu lihat hari ini, abang bakso yang suara mangkok lirihnya kamu dengar dari kejauhan, supir taksi yang mengeluh padamu tentang penumpang yang makin sepi, bayi yang ditinggalkan oleh orang tuanya, dan masih banyak lagi. Bayangkan setiap orang, mu...

Nyalang

Kita bersebelahan. Ada hening yang begitu panjang. Matamu nyalang. Kudengar tarikan napasmu yang dalam dan panjang, dan kemudian kamu lepaskan dengan tergesa. Seperti berusaha mengambil segala yang ada di dalam hatimu, lalu ingin buru-buru membaginya ke udara.  Ku putuskan untuk memelukmu. Tubuhmu terguncang. Menangis tergugu. Kueratkan pelukanku. Berharap retakan-retakanmu tidak sampai membuatmu pecah.  Semoga pelukan menyembuhkan. Sayang, percayalah bahwa akan ada satu pagi, dimana ketika kamu bangun, kamu kembali merasa utuh, penuh. Sekarang, tidurlah.

Doakan Saja yang Terbaik Untuk Mereka

source of picture: https://www.desiringgod.org/interviews/if-i-fail-to-forgive-others-will-god-not-forgive-me Tuhan bersifat universal, begitupun kasih. Karena Tuhan sendiri adalah kasih. Yang bersifat universal mampu melampaui sekat apapun, tanpa syarat, tanpa pandang bulu. Kasih melampaui sekat-sekat agama, ras, bahkan spesies sekalipun. Ketika kamu mengasihi seseorang, kebahagiannya adalah kebahagiaanmu. Sedihnya adalah sedihmu. Kamu akan mendoakan semoga segala yang terbaik akan terjadi pada orang yang kamu kasihi. Seorang teman mengatakan pada saya malam ini, "doakan saja yang terbaik buat mereka." Tiba-tiba ada bagian dari jiwa saya yang terbuka. Hal yang selama ini tidak saya sadari. Mungkin selama ini yang lebih saya kasihi adalah diri saya sendiri. Sublimasi dari rasa egois saya yang seolah-olah saya proyeksikan sebagai rasa kasih saya kepadanya. Butuh perjalanan panjang untuk sampai pada tahap ini dan saya tahu akan terus berproses. Begitu banyak keputusa...

Climbing

Kegiatan outdoor  dan olahraga ekstrim sedang booming  beberapa tahun terakhir. Kalau dahulu hanya komunitas atau penggiat dari kalangan tertentu yang bisa terlibat, sekarang banyak pihak yang sudah membukanya untuk umum, sebagai bagian dari usaha komersil mereka, termasuk climbing . Di Tangerang sana, ada fasilitas climbing indoor  yang terbuka untuk umum. Saya mencobanya awal Desember kemarin. Setelah tujuh tahun berlalu, ini pertama kalinya saya kembali ke papan panjat. Tempatnya lumayan menyenangkan. Di lantai dua ada tempat untuk latihan bouldering . Di lantai empat, untuk latihan panjat. Ada berbagai level kesulitan, mulai dari very easy sampai Cry.  Segala peralatan, dari sepatu, harnest, dll sudah disiapkan. Disediakan juga petugas  belayer, yang siap sedia memandu dan menjaga kamu selama memanjat.  Mas belayer bertanya kepada saya, "Mba dulu anak sispala ya?" "Kok tahu mas? Pernah ketemu gitu dulu?" Saya ingat, sispala kami beberapa k...

Nyanyian Pagi

oleh Iksan Skuter Kicau burung nyanyikan lagu sedih Senandungkan luka yang dalam Hibur diri dalam kesendirian Ditemani embun yang tercemar Menangis burung dalam nyanyiannya Kemanakah kawan-kawanku Yang dulu selalu setia menemani Menyambut indah fajar pagi Burung melanjutkan nyanyian itu Menyisipkan sebaris doa Apakah aku akan selalu ada Menghiasi bumi manusia Ia berdoa untuk tetap hidup Untuk hiasi indah dunia Bernyanyi burung yang kesepian itu Ku dengar lewat nyanyian pagi Memang yang kurasakan pagi ini Terasa hampa tak berarti Tak seperti pagi-pagi dahulu Dan kurindukan semua itu Kini nyanyian burung tlah berhenti Lanjutkan drama kehidupan Bertahan hidup dalam kesulitan Bertahan dalam kesepian Lalalalalalalala Lalalalalalalala..

Kenangan

Kenangan membeku Dalam bingkai ruang dan waktu Melayang-layang di sudut kamar gelap Memandangimu yang sedang terlelap Kamu menggigil  Dipeluk kenangan  Yang semakin dingin Kenangan semakin beringas Menyelimutimu sampai tidak mampu bernapas Kamu mati  Sebagai ampas

Mba Ningsih

Saya ambil tulisan ini dari tumblr, penggalan perjalanan ke Rinjani di Lebaran 2013. Saya dan Leo ke Rinjani dengan moda transportasi darat, dari Jakarta - Bandung - Yogyakarta - Banyuwangi - Bali - Lombok. Perjalanan yang cuma berdua ini benar-benar memberikan ruang untuk lebih banyak merenung dan berinteraksi dengan orang yang kami temui selama di perjalanan. Tidak banyak yang suka naik kereta ekonomi, apalagi untuk jarak jauh. Dahulu, kereta ekonomi memang dipandang tidak manusiawi. Saya sempat mengalami tidak dapat tempat duduk, tidur di sela-sela antara kursi dengan kursi, tidur di jalanannya, bahkan membajak WC nya untuk tidur. Pernah juga menghabiskan malam di sambungan gerbong bersama banyak bapak-bapak petani yang hendak ke Jakarta. Syukurlah, sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik dan manusiawi. AC-nya bekerja dengan baik, tidak ada penumpang yang tidak mendapat tempat duduk, bahkan kamar mandinya harum dan bersih. Yang tidak berubah adalah keramahannya. It...

Roller Coaster

http://mentalfloss.com/article/503373/12-secrets-roller-coaster-designers Saya selalu tersenyum, ah lebih dari tersenyum, saya bahkan tertawa sendiri setiap mengingat momen itu. Momen saat kita naik roller coaster.  Melihatmu, seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu. Saya sungguh mengerti apa yang kamu rasakan. Dimulai dengan keraguan untuk menaiki wahana dan ketakutan untuk mencoba. Sempat ingin menyerah saja, tapi dorongan untuk mengetahui sensasinya jauh lebih besar. Ketika mulai menaiki tangga wahana, degup jantung makin tidak teratur. "Jantungku tidak karuan," katamu berbisik, takut terdengar anak kecil di depan yang sama sekali tak gentar. Saya hanya membalas dengan tersenyum, membiarkanmu berproses. Saya mencoba memutar ulang semuanya, kembali hadir menjadi penonton. Kamu seperti anak kecil yang ingin tahu, tak henti bertanya dan memberikan komentar spontan yang ingin membuat saya tergelak. Saya seperti menonton film komedi. Akhirnya kita me...