Skip to main content

Posts

Melayang

Dia menenggak segelas tequila. Berharap kesedihannya berlalu dan sepinya menguap bersama sebotol tequila yang ia minum di sudut kamar. Saya ingin melayang malam ini, gumamnya dalam hati. Ia teringat pengalaman pertama melayangnya. Di tepi pantai, di ujung timur negeri ini, bersama teman-teman yang baru ia kenal selama beberapa hari. Pikirannya melayang menemui orang-orang terkasihnya. Ia bersyukur untuk keluarga besarnya di ujung barat negeri ini yang diberikan kesehatan dan pengertian, kekasih yang begitu sabar dan mendamaikan, sahabat-sahabat yang meskipun terpencar-pencar tapi selalu berada di sisinya, juga rekan-rekan kerja yang menyenangkan. Kepalanya mulai terasa berat. Ia memilih rebah di atas pasir sambil memandang langit dengan bintangnya yang begitu banyak. Tawa dan obrolan teman-temannya terasa jauh. Perlahan ia terlelap. Semuanya terasa sempurna malam itu.  Pikirannya kembali ke sudut kamar di tengah belantara ibukota. Satu teguk. Dua teguk. Tiga teguk. Emp...

Terurai

Aku melihat seorang anak terduduk di sudut sendirian. Ia seperti tenggelam di tengah hiruk pikuk dunia yang begitu sibuk. Tatapannya kosong. Aku mengambil tempat di sebelahnya. Dia tidak menghiraukan sama sekali. Aku memilih diam dan perlahan ikut tenggelam. Tiba-tiba, aku seperti masuk ke dalam kotak transparan, hanya ada aku dan anak itu. Aku bisa melihat apa yang terjadi di luar, tapi seperti di film bisu. Semua jelas, tapi tanpa suara. Dia kemudian memandangiku, tatapannya yang tadi kosong berubah menjadi tatapan yang begitu hangat dan polos. Aku balas memandanginya. Kami seperti bercerita hanya lewat tatapan mata. Tanpa sadar, tubuhku terguncang. Aku terisak. Dia tetap mematung di sana, memandang dengan mata yang begitu mendamaikan seolah mengatakan, "aku mengerti." Kemudian dia memelukku. Erat. Erat sekali. Begitu hangat dan damai. Berangsur-angsur, aku tidak lagi merasakan apa-apa. Semuanya terasa ringan. Kami melayang. Anak itu sedikit demi sedikit terurai men...

Kehilangan yang Semu di 2018

Sewaktu sekolah, saya sering ditegur ibu karena lupa membawa pulang tempat makan. Iya, biasanya diletakkan di kolong meja kemudian lupa dibawa pulang. Nasib menyedihkan serupa terjadi pada toples, sendok, tempat minum, dan peralatan lain yang saya bawa keluar, biasanya mereka tidak pernah kembali ke rumah. "Untung saja kepalamu nempel, kalau nggak, pasti ketinggalan juga," Kata Ibu dengan nada campuran antara kesal, agak putus asa, tapi juga sedikit bercanda. Kalau diingat-ingat, tahun 2018 kalau orang jawa bilang pelupa dan teledor saya  unbelievable. 1. KTP Kuartal satu tahun 2018, saya baru sadar kalau KTP saya tidak ada ketika mau meeting ke client  yang masuk gedungnya harus menyerahkan KTP.  Saya merasa sudah mencari ke semua penjuru mata angin, mulai dari meja kantor, tas, kosan, sampai tanya ke orang rumah, tapi ternyata jawabannya nihil. Saya mencoba mengingat-ngingat dimana terakhir saya menggunakan KTP itu. Dengan ingatan yang terbatas, saya ...

Bergelung di Ketiakmu

Aku ingin bergelung di ketiakmu Seperti anak ayam di balik sayap induknya Yang berlindung dari dingin dan hujan deras Anak ayam berciap-ciap.. Ketakutan jika genangan dapat menghanyutkannya. Demikian juga aku ingin bercerita kepadamu Tentang gelisah yang remah dan remeh bagi dunia Ciapan anak ayam tidak akan mengeringkan genangan Begitupun juga ceritaku tidak akan merubah keadaan Tapi mengetahui bahwa kamu tidak sendirian Memberi kekuatan untuk menghadapi ketakutan Ku dengar bisikmu di telingaku, "Tak jadi soal menjadi bagian dari yang remah dan remeh, Asalkan tetap ramah, Dan tidak mudah marah." Ah.. Aku semakin menggulung di ketiakmu Menanti hujan reda Lalu kita menari bersama

Kacamata Kuda

Ketika kita kecil, kita diajari hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah. Kita diajarkan untuk memilah diantara dua itu secara straightforward. Jika tidak baik, maka itu buruk. Jika tidak benar, maka itu salah. Tidak ada diantaranya. Anak-anak biasa disuguhkan dengan akhir cerita yang bahagia dan optimisme. Tidak ada yang salah dengan itu, karena memang demikianlah yang dibutuhkan untuk usia anak-anak. Semasa sekolah, bahkan sampai kuliah, semuanya terasa hitam dan putih. Setiap tahun, target saya berkutat pada nilai yang baik, dapat beasiswa agar biaya sekolah gratis, membantu teman yang kesulitan dalam belajar, aktif di komunitas, dan menabung untuk bisa jalan-jalan. Ini menjadi kacamata kuda saya semasa sekolah. Tidak terpikirkan untuk melakukan kenakalan remaja pada umumnya. Saya selalu ingat pesan ibu saya, "Hidup harus prihatin. Bersyukur." Dengan kacamata kuda yang konsisten saya gunakan hingga lulus kuliah, semua memang terasa straightforward . Setelah mem...

Cerita dari Binaiya - Menuju Desa Piliana

Setelah vakum selama tiga tahun, akhirnya saya kembali melanjutkan apa yang pernah ada di dalam bucket list , seven summit Indonesia . Binaiya adalah gunung keempat setelah terakhir mendaki Kerinci berdua Siska di 2015. Ada sedikit perasaan gugup dan khawatir, terlebih karena ini pendakian open trip saya yang pertama, tapi perasaan excited  akan berada seminggu di gunung jauh lebih dominan.  Saya ingat betul, tahun 2014 saya pergi ke Desa Sawai di Pulau Seram dan terkaget karena desa ini masih bagian dari Taman Nasional Manusela, tempat dimana Binaiya berada. Janji saya kepada diri sendiri untuk kembali ke Taman Nasional Manusela dan mencecap Binaiya ketika itu tergenapi kini. Saya menjadi peserta terakhir yang sampai di Bandara Pattimura dan hampir ditinggal rombongan karena hanya pesawat saya yang delay . "Rani," saya memperkenalkan diri sambil menyalami mereka satu persatu. Sembilan peserta (tiga diantaranya perempuan) ditambah empat pemandu, merekalah y...

Kursi Malas

Jati baru membeli sebuah kursi malas yang berusaha ia jejalkan di kamarnya yang sempit. Kini, ia tak lagi harus duduk merenung di toilet. Kursi malasnya bisa digunakan untuk bekerja jika disandingkan dengan meja belajar. Kursi malasnya bisa diputar menghadap jendela, lalu Jati bisa santai bengong sekedar melihat awan, burung, dan segala pikirannya yang beterbangan dan melayang di seberang sana. Keinginannya sederhana saja. Ia ingin menonton film kesukaannya dengan duduk santai setelah seharian menghabiskan waktu di luar. Kemudian menghabiskan pagi dengan duduk, membaca, atau sekedar bengong sebelum harus kembali ke luar menjadi seperti orang dewasa pada umumnya di luar sana. Kursi malas, selamat datang!

Jadi?

Perjalanan naik gunung, camping, dan sejenisnya membuat saya sadar akan hal-hal yang begitu saya cintai. Menyadarkan kembali hal-hal apa saja yang membuat saya bahagia dan tenteram dari dalam. Semua berjalan dengan lambat, tidak ada target waktu selain matahari terbit dan tenggelam. Seperti masuk ke suatu semesta lain yang di dalamnya kamu tidak terikat apapun. Menghirup udara sebebas-bebasnya. Lepas dari kebisingan dan kesibukan. Seperti melayang. Seperti terbang. Berharmonisasi dengan simfoni alam. Damai sekali. Kembali ke alam mengingatkanmu untuk kembali ke dasar. Menyadarkan kembali bahwa yang sesungguhnya kamu butuhkan tidaklah banyak. Berhentilah menciptakan kerumitan yang tidak perlu. Mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena alam penuh dengan kejutan. Memilah-milah mana yang sungguh perlu dan tidak untuk dibawa, agar beban yang kamu bawa adalah sungguh yang benar-benar akan membantu perjalananmu, bukan kelak akan menyulitkan dirimu sendiri, terlebih lagi orang lain. Demi...

Menginginkan

Sekali waktu, kamu menginginkan banyak hal. Ada binar di matamu yang membuat semangat hidupmu terus menyala. Mengusahakan keinginan-keinginan itu. Pagimu penuh semangat dan harapan. Seperti anak kecil yang akan masuk sekolah di hari pertamanya. Berharap malam segera berakhir Karena tak sabar untuk segera pagi Dan kembali menggapai hari Aku ingin hidup seribu tahun lagi, Bisikmu dalam hati. ----- Sekali waktu kamu kecewa, Karena keinginanmu tidak bisa tercapai. Kamu mempertanyakan dirimu sendiri Tidak cukup pantaskah aku? Kurang keraskah perjuanganku? Kamu belajar melepaskan keinginan Tidak lagi menaruh harapan Dengan begini, kamu berharap tidak perlu lagi merasa kecewa Bukankah yang tidak memiliki tidak akan kehilangan? Di titik ini, hidupmu tinggal sehari ataupun seribu tahun lagi Kamu tidak peduli ----- Hidup tanpa keinginan Ternyata membawa hidup yang tanpa gairah Hidup yang tanpa gairah ternyata membuatmu jauh lebih cepat lelah Persetan dengan kec...

Pasti

Randu rebah di pangkuan Jati untuk pertama kalinya. Dengan canggung, Jati menyisiri rambut Randu yang tebal dan bergelombang dengan jarinya.  "Saya tidak tahu apakah saya bisa merubah keputusan saya," Randu berbisik. "Atau mungkin saya yang harus merubah keputusan saya," Jati membalas. Ia sedang menimbang-nimbang. Mungkin menunggu adalah salah satu bentuk usaha terakhir yang dapat dilakukan, karena tentu saja memaksa sama sekali bukan pilihan. Seperti lari berdua yang selama ini menjadi ritual bersama Jati dan Randu. Meskipun keduanya memiliki pace yang berbeda, tapi mereka tetap bisa menikmatinya. Memaksakan yang lebih lambat mengikuti ritme yang lebih cepat hanya akan menyiksa salah satunya. Pilihan yang mungkin adalah menunggu di tempat yang dijanjikan, memperlambat pace salah satunya, atau menjemput yang tertinggal setelah sampai pada titik tertentu. "Saya butuh kepastian darimu bahwa kita akan bersama-sama mengusahakan berada di garis fin...