Skip to main content

Posts

Trawangan

Trawangan, Agustus 2020 Kepingan yang berserakan Yang menyebar ke segala penjuru Di bawah kasur Di balik bukit Di antara debur ombak Di pagi yang tergesa Mengayuh, tersedu Terbelenggu sendu Kesulitan bernapas Ditikam senja dengan jingga yang menyala Tertarik sampai ke dasar Tanpa pernah bisa keluar Tersesat dalam belukar Meringkuk Tertekuk Tolong peluk!

Selatan

Tuan, ada hal yang ingin saya ceritakan, yang sejak lama sudah saya simpan. Selama ini saya ragu apakah perlu dibagikan. Saya tetap menyimpannya dengan alasan,  toh tidak pernah ditanyakan .  Tuan, ada bagian gelap diri saya yang selama ini tertidur lelap. Yang begitu binal, sekaligus banal. Saya sangat ingin memperkenalkannya kepada Tuan, meskipun dengan penuh ketakutan kalau Tuan akan bergidik ngeri dan murka, lalu meninggalkan saya dalam nyeri dan luka. Tuan pemilik pagi, saya ingin memperlihatkan remang saya kepadamu. Remang yang gamang. Di sudut-sudutnya, Tuan akan mendapati saya yang jalang, terduduk dengan tatapan nyalang. Semoga Tuan tidak lari tunggang langgang.  Tuan yang lembut hati, kepala saya begitu keras. Sesungguhnya saya tidak pernah merasa pantas. Tuan memberikan pencerahan, sementara saya membawa kerumitan. Tuan hadir dalam kesederhanaan, sementara saya menuntut sejuta keinginan. Tibalah kita di persimpangan, Tuan hendak ke timur, saya bergegas ke barat...

Lega

Ini menjadi perjalanan singkat pertama kami setelah kampanye #dirumahaja didengungkan, setelah tiga bulan lebih benar-benar di rumah saja. Sukamantri di Ciapus menjadi destinasinya. Sukamantri selalu menjadi pilihan terbaik untuk menyepi sesaat dari hiruk-pikuk rutinitas. Kalau biasanya saya hampir selalu camping , kali ini hanya ingin trekking singkat bersama Will dan numpang makan siang di sana.   Dari terakhir turun mobil, kami masih harus jalan kaki sekitar satu jam. Terakhir saya menyambangi tempat ini adalah Januari 2018. Jalan dari rumah penduduk ke  Kujang Raider tidak banyak berubah, tapi saya lumayan terkejut sekarang ada resort  lumayan mewah di jalan berbatu menuju Sukamantri. Kejutan selanjutnya adalah jalan yang sudah mulus dari Kujang Raider sampai Camping Ground, dicor beton. Dulu masih tanah dan berbatu. "Wah, bisa ini untuk lari," kami berkelakar. Iya, bisa pingsan. Begitu memasuki Camping Ground, ternyata sekarang sudah lebih tertata lagi. Mulai d...

Insecure

Sejak duduk di sekolah dasar, saya sadar bahwa betis saya lebih besar dari orang kebanyakan dan saya begitu tidak percaya diri karena hal ini. Betis tukang becak, kalau kata teman-teman sekolah. Komentar sederhana seperti, "Gila, betis lo gede banget ya, Ran" sudah biasa saya terima. Dari luar saya pura-pura cuek, padahal setiap memilih pakaian, saya selalu memikirkan bagaimana supaya betis saya kelihatan sedikit lebih kecil. Beberapa tahun belakangan, saya belajar bahwa tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima bahwa tidak ada yang salah dengan betis besar. Akhirnya saya mulai berani dan percaya diri memakai celana pendek dengan bebas dan berterima kasih karena dengan betis ini saya bisa menyambangi puncak-puncak gunung.  Lain dengan ukuran betis yang di atas rata-rata, ukuran dada saya malah di bawah rata-rata. Andai kelebihan di betis bisa dipindahkan sebagian ke dada. Suatu hari, saat saya ingin membeli bra di mall, saya bertanya apakah ukuran sekian tersedia. Mbanya ...

Pohon Pikiran

Aku melihat kata-kata keluar dari telingamu Banyak sekali dan tak beraturan Kemudian mereka berputar-putar di atas kepalamu Terus menjalar dan semakin tinggi Menyerupai pohon yang telah berusia ratusan tahun Yang dahan dan daunnya kemana-mana Sementara akarnya tertanam erat di kepalamu.  "Kasihku, kau punya pohon pikiran!  Bolehkah aku memanjat kepalamu?" Kau mengangguk. Betapa aku ingin mengetahui isi pikiranmu! Akhirnya aku berada di bawah rindangnya pohon pikiranmu. Betapa menakjubkan. Bahkan ini lebih menakjubkan dari pohon-pohon istimewa yang selalu kita kagumi itu. Aku akan menelusuri setiap dahan dan daunnya yang terbuat dari kata-kata, tekadku dalam hati. Betapa buah pikiran di setiap ujung dahan itu begitu menggiurkan. Sayang sekali, belum selesai satu dahan, aku sudah ketiduran. Bagaimana tidak, satu dahan bisa terdiri dari berjuta-juta kata tak beraturan yang harus kupahami sendiri maknanya.  Jangankan sampai pada buah pikiranmu, sudah berkali-kali aku terbangu...

Growing Up

Growing up What are we supposed to see, to feel, to meet Growing up What are we supposed to miss, to keep, to leave When it hurts It hurts me When it hurts Still hurts every time One leaves, one ceases Growing up How are we supposed to give, to take, collate Growing up How are we supposed to love, to breath, to be When it hurts It hurts me When it hurts Still hurts every time We fall and we crawl Can anybody tell me Can anybody tell me Can anybody help me How to What to do Can anybody tell me Denizens of the deep Drifters of the current Where do we go Where do we seek? If not Within Within me Within you Within me Within you -Rara Sekar

Feminis

Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang membuat saya meyakini bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara. Setiap orang harus mandiri dan bisa menghidupi dirinya sendiri, tidak peduli dia laki-laki atau perempuan. Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing, memperjuangkan apa yang menurutnya berharga, mengutarakan apa yang dia inginkan, tanpa harus mempertimbangkan apakah dia laki-laki atau perempuan.  Sejak remaja, saya tidak bisa mengerti mengapa yang berlaku secara umum adalah para ibu yang melakukan pekerjaan rumah tangga, mendidik dan mengurus anak juga lebih dititikberatkan kepada para ibu, sementara para bapak yang bertugas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Saya ketika itu bertanya-tanya mengapa tidak berlaku sebaliknya. Saya bergidik ngeri waktu mendengar istilah kodrat perempuan sebatas sumur, dapur, dan kasur.  Memasuki masa SMP dan SMA, saya mempertanyakan mengapa dianggap wajar jika laki-laki yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu, t...

Ran, Run?

"Ran, Run?" Pertanyaan khas dari Will, orang yang akhirnya memicu saya untuk kembali berlari setelah sekian lama dorman. Saya memulai lari kembali di Februari 2018. Masih sangat jelas dalam ingatan, beberapa bulan terakhir ketika itu jam tidur saya sangat kacau. Saya baru bisa tidur jam tiga pagi, bangun jam sembilan, jam setengah sepuluh sudah ada di kantor. Rutinitas yang sangat buruk untuk kesehatan, baik fisik maupun mental. Senin, 19 Februari, hari perdana lari. Seperti biasa, saya baru bisa tidur jam tiga. Jam lima subuh, alarm sudah berbunyi. Astaga, itu beratnya bukan main. Perasaan saya baru tidur lima menit. Satu-satunya alasan untuk akhirnya tetap bangun dan bergegas adalah saya tidak ingin kepayahan lari di Sabtu nanti, hari pertama saya akan bertemu Will. Gengsi. Alasan yang sungguh mulia bukan. Hari itu saya lari di sekitaran Setiabudi, tidak sampai lima kilometer dengan  pace  yang lambat. Hari kedua, saya sudah bisa tidur satu jam lebih cepat, jam dua pagi. Go...

Bertumbuh

Bertumbuh. Tidak hanya dari segi fisik, berharap kesadaran, pengetahuan, dan pengalaman sebagai manusia pun terus bertumbuh. Belakangan saya memikirkan kembali satu prinsip yang tadinya begitu saya pegang teguh, yang saya yakini adalah keputusan yang tepat. Saya mencoba merefleksikan kembali apa sesungguhnya yang membawa saya kepada pilihan tersebut. Selama ini, saya cenderung mencari pembenaran atas pilihan tersebut. Saya fokus pada dampaknya, bukan pada alasan yang sungguh mendasarinya. Pilihan yang saya ambil memiliki dampak yang lebih bisa diprediksi dan lebih sesuai dengan saya hari ini. Tidak selalu mudah untuk berefleksi dengan sungguh, kemudian bersikap terbuka dan jujur kepada diri sendiri. Saat ini, akhirnya saya menemukan bahwa keputusan itu dipilih karena ada ketakutan yang begitu melekat. Ketakutan yang selama ini mengendap di alam bawah sadar yang tentu saja tidak terbentuk dari pengalaman sekedar satu atau dua hari, tetapi pengamalan selama hidup dan pengaruh dari ekosis...

Merasa Bersalah

Saat kamu ingin menambah minumanmu, Kemudian teringat bahwa dengan jumlah yang sama, Minumanmu bisa berubah menjadi beras, Dan mengenyangkan perut-perut yang lapar, Mendadak kamu tidak lagi haus. Saat harus ada yang tertidur dengan menahan lapar, Sementara kamu memilih tidur dalam keadaan tidak sadar, Jauh di lubuk hatimu tahu ada yang tidak benar. Saat dunia begitu ramah, Alih-alih menjadi serakah,  Semoga kamu memilih menjadi berkah.  Yang kamu butuhkan tidak sebanyak itu. Berbagilah.