Skip to main content

Posts

Utarakan

oleh Banda Neira   Lihatlah bunga di sana bersemi Mekar meski tak sempat kau semai Dan suatu hari badai menghampiri Kau cari kemana, dia masih disana Walau tak semua tanya datang beserta jawab Dan tak semua harap terpenuhi Ketika bicara juga sesulit diam utarakan, utarakan, utarakan Dengarlah kawan disana bercerita Pelan dia berbisik, pelan dia berkata-kata Dan hari ini takkan kau menangkan Bila kau tak berani mempertaruhkan Walau tak semua tanya datang beserta jawab Dan tak semua harap terpenuhi Ketika bicara juga sesulit diam utarakan, utarakan, utarakan

Bau Karbit

http://wallpaperswide.com/road_to_nowhere-wallpapers.html Dua puluh tahun bersama, aku tidak pernah bosan memandangi Alam yang sedang terlelap. Tidurnya pulas dan wajahnya begitu polos, penuh kedamaian, persis seperti Air ketika bayi dulu, yang terlelap selesai menyusu. Masih kupandangi wajahnya sambil kuusap alisnya. Di usianya yang sudah setengah abad, Alam masih tetap jadi kebangganku seperti dua puluh tahun yang lalu. Alisnya masih tebal, senyum menggodanya tidak pernah berubah, dan tatapan tajamnya masih sama. Tidak banyak yang berubah dari Alam selain rambut ikalnya yang kian memutih dan guratan halus di wajahnya yang semakin banyak. Alam adalah keajaiban yang aneh untukku. Kalau aku boleh meminjam Puisi Soe Hok Gie, aku akan pinjam potongan puisinya yang berisi, “Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.” Sekilas terdengar picisan, tapi memang itu yang aku alami bersama Alam. Kami selalu berdebat, mulai dari hal yang sepele seperti perdebatan dala...

Rindu

Saya rindu kamu. Saya rindu bersandar di punggungmu yang kaku, yang tak bernah mengaduh pada setiap keluh. Saya rindu berada di pelukanmu yang begitu dingin. Dinginmu yang membuat saya sadar bahwa kehidupan ini ternyata begitu menghangatkan. Saya rindu menelusurimu yang begitu hening. Heningmu membuat saya sadar bahwa keriuhan terbesar ada di kepala saya sendiri. Menelusurimu seperti menemukan jalan pulang, berdendang dalam tenang. Saya rindu terlelap di dekat jantungmu. Detakmu yang menyadarkan saya bahwa waktu akan terus berlalu, tak perlu terburu-buru. Kamu tidak menjanjikan perjalanan yang menyenangkan. Tidak juga menjanjikan matahari akan terbit tanpa awan ketika fajar. Kamu tidak menjanjikan semesta akan bersahabat. Ah, saya rindu kamu, kamu yang tidak pernah menjanjikan apapun, kecuali dirimu sendiri. Kamu tidak pernah pergi, saya yang belum bisa kembali. Semoga kamu mengerti.

Si Kecil

Ada penghuni baru tidak diundang di tubuhku. Kehadirannya terlalu kecil untuk aku sadari. Hanya gejalanya yang makin lama makin terasa. Aku menamainya Si Kecil. Si Kecil yang membuatku bisa menghabiskan waktu bersama ibu di dapur berjam-jam sambil berbincang panjang. Ya, di dapur, bukan di beranda, karena malu bila sampai ketahuan tetangga. Si Kecil yang membuatku bisa kembali tertidur di pangkuan ibu seperti masa kecil dulu. Ibu akan menelusuri setiap helai rambutku dan beliau bahagia bukan main bila bisa merasakan gerakan Si Kecil. Bau daster ibu, belaian tangannya, dan kepalaku yang terkulai di pangkuannya, membuatku tertidur lelap seperti bayi selesai menyusu, tanpa takut, tanpa khawatir. Ibu ingin aku tetap memelihara Si Kecil, sementara aku bertekad untuk tidak mempertahankannya. Si Kecil adalah parasit untukku. Secara tidak langsung, dia memakan apa yang aku makan. Teman-teman, tetangga, dan siapapun yang mengetahui bahwa aku hidup bersama Si Kecil pasti akan jijik ...

Rumit

Aku menyukaimu sejak kita masih anak-anak. Aku menyukaimu seperti aku suka mandi hujan, seperti aku suka berlari, dan seperti aku suka belajar matematika. Tidak butuh alasan untuk suka mandi hujan, berlari, dan belajar matematika, mereka seolah sudah tertulis di DNA ku. Serupa itulah aku menyukaimu, sudah tertulis di DNA ku juga sepertinya. Anak – anak tidak peduli pada kerumitan, tidak bisa berpikir panjang, dan menyukai hal yang spontan. Aku tidak peduli bahwa doa yang harus kita hafal ternyata berbeda, kamu harus hafal Al-Fatihah sedangkan aku harus hafal Bapa Kami. Aku sangat bersyukur bahwa aku bisa bertemu denganmu selama hampir setiap hari selama lima tahun. Aku gembira saat berlari bersamamu mengejar lawan untuk menjaga benteng kita. Aku menyukaimu dengan sederhana, spontan, dan tanpa kerumitan. Tahun berlalu, aku dan kamu tumbuh dewasa, dan kita kembali bertemu, saat kamu sudah bersama calon pasangan hidupmu. Orang dewasa menyukai kerumitan, sudah bisa ber...