Skip to main content

Posts

Ran, Run?

"Ran, Run?" Pertanyaan khas dari Will, orang yang akhirnya memicu saya untuk kembali berlari setelah sekian lama dorman. Saya memulai lari kembali di Februari 2018. Masih sangat jelas dalam ingatan, beberapa bulan terakhir ketika itu jam tidur saya sangat kacau. Saya baru bisa tidur jam tiga pagi, bangun jam sembilan, jam setengah sepuluh sudah ada di kantor. Rutinitas yang sangat buruk untuk kesehatan, baik fisik maupun mental. Senin, 19 Februari, hari perdana lari. Seperti biasa, saya baru bisa tidur jam tiga. Jam lima subuh, alarm sudah berbunyi. Astaga, itu beratnya bukan main. Perasaan saya baru tidur lima menit. Satu-satunya alasan untuk akhirnya tetap bangun dan bergegas adalah saya tidak ingin kepayahan lari di Sabtu nanti, hari pertama saya akan bertemu Will. Gengsi. Alasan yang sungguh mulia bukan. Hari itu saya lari di sekitaran Setiabudi, tidak sampai lima kilometer dengan  pace  yang lambat. Hari kedua, saya sudah bisa tidur satu jam lebih cepat, jam dua pagi. Go...

Bertumbuh

Bertumbuh. Tidak hanya dari segi fisik, berharap kesadaran, pengetahuan, dan pengalaman sebagai manusia pun terus bertumbuh. Belakangan saya memikirkan kembali satu prinsip yang tadinya begitu saya pegang teguh, yang saya yakini adalah keputusan yang tepat. Saya mencoba merefleksikan kembali apa sesungguhnya yang membawa saya kepada pilihan tersebut. Selama ini, saya cenderung mencari pembenaran atas pilihan tersebut. Saya fokus pada dampaknya, bukan pada alasan yang sungguh mendasarinya. Pilihan yang saya ambil memiliki dampak yang lebih bisa diprediksi dan lebih sesuai dengan saya hari ini. Tidak selalu mudah untuk berefleksi dengan sungguh, kemudian bersikap terbuka dan jujur kepada diri sendiri. Saat ini, akhirnya saya menemukan bahwa keputusan itu dipilih karena ada ketakutan yang begitu melekat. Ketakutan yang selama ini mengendap di alam bawah sadar yang tentu saja tidak terbentuk dari pengalaman sekedar satu atau dua hari, tetapi pengamalan selama hidup dan pengaruh dari ekosis...

Merasa Bersalah

Saat kamu ingin menambah minumanmu, Kemudian teringat bahwa dengan jumlah yang sama, Minumanmu bisa berubah menjadi beras, Dan mengenyangkan perut-perut yang lapar, Mendadak kamu tidak lagi haus. Saat harus ada yang tertidur dengan menahan lapar, Sementara kamu memilih tidur dalam keadaan tidak sadar, Jauh di lubuk hatimu tahu ada yang tidak benar. Saat dunia begitu ramah, Alih-alih menjadi serakah,  Semoga kamu memilih menjadi berkah.  Yang kamu butuhkan tidak sebanyak itu. Berbagilah.

Jati dan Seroja

Jati sudah mati. Jati sudah mati. Jati sudah mati. Seroja merapal kata-kata itu dalam hati. Seroja tidak akan pernah lupa perpisahan terakhirnya dengan Jati. Perpisahan yang penuh amarah dan berakhir begitu saja setelah belasan tahun mengenal satu sama lain.  Keduanya kini telah menjalani kehidupan masing-masing di 'dunia' yang berbeda. Ada garis batas imajiner yang mereka tahu tidak boleh dilewati karena akan ada chaos  jika mereka berani melanggar garis batas itu. Mereka pernah melewati batas itu sekali, chaos terjadi, dan kini mereka harus menanggung akibatnya seumur hidup.  Segala yang terjadi hanya tinggal kenangan. Tidak akan pernah lagi ada tegur sapa, tidak akan pernah ada lagi pertemuan, semuanya berhenti di hari perpisahan itu. Mereka nyata bagi satu sama lain hanya sampai hari itu. Sisanya hanya reka ulang peristiwa-peristiwa yang pernah mereka lalui bersama-sama. Betapa absurd. Orang yang pernah ada dalam kehidupanmu dengan sangat intens kemudian...

Merayakan Bulan Ramadhan padahal Tidak Pernah Puasa

Tidak perlu menjadi muslim untuk menantikan Bulan Ramadhan. Bagi saya, banyak kenangan dan pengalaman menyenangkan selama bulan ini. Semasa sekolah, jam belajar menjadi lebih singkat. Ditambah lagi libur lebaran yang bisa berlangsung selama dua minggu. Teman-teman SD saya yang muslim wajib ikut tarawih dan harus meminta tanda tangan penceramahnya. Karena kebetulan rumah saya dekat masjid, jadi kami bisa bermain selepas mereka sholat tarawih. Serial Lorong Waktu, Zidan dan mesin waktunya, menjadi yang paling ditunggu-tunggu saat sore tiba.  Memasuki masa kuliah, saya kebetulan aktif di komunitas Katolik. Bulan Ramadhan membuat kami dalam komunitas semakin akrab karena kami biasanya akan lebih rutin makan siang bersama.  Ritual yang tidak lepas dari Bulan Ramadhan adalah  buka bersama . Momen untuk berkumpul dengan teman-teman lama, setidaknya setahun sekali. Biasanya saya akan ikut buka bersama dengan teman-teman terdekat, yaitu circle SMP, SMA, dan Kuliah. Berku...

Hari yang Lezat

Mengejamu, Dari huruf yang menjadi kata Dan menjadikannya kalimat Tanpa sadar, disinilah kita Dalam sebuah alinea Menggenggammu, Berkait pada bu ku-buku jarimu Menelisik helai demi helai lembut romamu Ooh, izinkan aku menyelinap Memetik buah pikirmu Bergelung dalam palung sabarmu Ada kantong yang kulepaskan hari ini Ia berisi tuntutan kesetaraan Yang ternyata tidak lagi relevan, Karena kamu sudah adil sejak dalam pikiran Hari ini begitu lezat, Aku bisa menghirup aroma bahagia yang menguar Mencecap baik-baik kebersamaan kita Menemukan kembali resep utama mengapa kita adalah pokok Aah, tapi tetap ada sisa yang harus kubawa pulang Yang tak tertahankan tapi belum bisa disampaikan

Keluarga Cemara

Saya sering merasa menjadi adik durjana. Bagaimana tidak, sedari kecil kalau Ibu sudah menunjukkan gelagat akan menyuruh saya mengerjakan pekerjaan rumah, saya akan dengan secepat kilat mengambil buku lalu pura-pura belajar. Kakak yang sudah hafal pola kurang ajar saya ini akan langsung teriak, "Kamu nggak usah pura-pura belajar". Saya lalu mendadak tuli dan meneruskan "membaca" sementara Ibu akan menyuruh kakak saya melakukan pekerjaan rumah. Sampai sekarang,  kalau pulang ke rumah pun saya masih menjadi yang paling malas mengerjakan pekerjaan rumah. Air tuba dibalas dengan air susu. Betapa bandel dan keras kepalanya saya ketika kecil, kedua kakak ini tetap baik bukan kepalang. Yah, walaupun saya sempat dikunci mereka di kamar mandi atau didiamkan beberapa hari. Tidak akan lupa betapa senangnya saya saat Kakak Pertama mengajak ke Ramayana untuk dibelikan baju natal. Saya memilih baju pink dan celana putih ketika itu. Setiap dia mengabarkan akan pulang...

sebelum tidur

aku lelah, kataku. yaa tidurlah, timpalmu. bagaimana kalau ketika aku bangun ternyata lelah masih mengejarku, tanyaku. percayalah, lelahpun perlu istirahat. tidur sayang, katamu. bagaimana kalau aku tidak bisa sampai besok, tanyaku. setidaknya kita sampai hari ini. peluk aku, pintaku. mendekatlah, jawabmu. mungkin besok aku sembuh, kataku di lenganmu. yang penting bagiku, kamu bertumbuh. terima kasih, kataku. akupun demikian. aku terima kasihmu. tapi aku tidak selalu penuh dengan kasih. ada yang pernah bersabda, berbahagialah mereka yang memberi dari kekurangannya. syukur kepada allah, bisikku.

Satu Hari Lagi

Satu hari lagi. Hari ini, bisa jadi ada kesalahan lagi. Yang terjadi sangat mungin bukan yang diharapkan. Semesta tidak selalu mendukung, sesekali dia menikung. Kadang merasa salah tempat, atau bahkan merasa tersesat. Satu hari lagi. Bagaimana kalau tidak cukup baik? Bagaimana kalau tidak bisa secepat itu melaju? Bagaimana kalau tidak juga ada perubahan? Bagaimana kalau bagaimana? Satu hari lagi. Hari ini, bisa jadi ada keputusan yang benar. Yang terjadi sangat mungkin adalah yang diharapkan. Semesta tidak selalu menikung, sesekali dia mendukung. Satu hari lagi. Menerima bahwa diri tidak selalu baik. Cepat tidak selalu tepat. Tidak selalu ada perubahan, tapi semoga kami selalu memelihara harapan. Satu hari lagi. Mari berjalan bersama. Saling menemani, menyambut renta. Sampai sebagian kita, tidak punya satu hari lagi. selamat. ulang. tahun.