Skip to main content

Posts

Pelukan Ibu

Dengan langkah pelan, perempuan itu berjalan masuk. Cahaya temaram lilin menerangi wajahnya. Dia memilih duduk di sudut lalu memandang wajah teduh Ibu. Tak lama kemudian, ia memejamkan mata. Bahunya terguncang. Ia menangis tergugu tanpa suara di pelukan Ibu. Segala bahagianya. Segala syukurnya. Segala khawatirnya. Segala lukanya. Segala sedihnya. Segala yang tidak mungkin ia ceritakan pada dunia. Ia bawa dan ceritakan kepada Ibu, tanpa suara. Ibu memeluknya dengan penuh kasih. Dalam hening, tanpa penghakiman, tanpa syarat. Cukup lama ia terbuai dalam pelukan Ibu. Ia senyaman bayi dalam rahim, segala yang ia butuhkan sudah berada di dalam sana. Pelukan yang membuatnya lupa bahwa dunia sedang memanggil, menunggunya di luar sana. "Ibu Maria, dampingilah aku selalu," katanya kemudian diikuti tiga kali Salam Maria lalu bergegas pergi. Kembali ke pelukan dunia.

Berkenan

Semesta mempertemukan Tidak ada yang menggebu Tidak ada yang terlalu Tidak berlebihan tentang masa lalu Tidak juga terlalu berangan tentang masa depan Kita berjalan bersisian Sesekali sibuk dengan masing-masing pikiran Kemudian mendarat pada kenyataan Bahwa hening pun terasa nyaman Kita berlari beriringan Sesekali terpisah dari barisan Kemudian bertemu lagi di depan Sambil saling menyambut dengan segaris senyuman Spontanitasmu mengingatkan saya pada ketulusan anak-anak, menggembirakan Canggungmu mengingatkan saya pada remaja tanggung yang malu-malu, menggemaskan Sabarmu mengingatkan saya pada sebatang pohon rindang di savana gersang, meneduhkan Tenangmu mengingatkan saya pada hening panjang di jalur Argopuro, mendamaikan Belajar.. Menerima segala keterbatasan Mendampingi dalam kesederhanaan Mengasihi untuk saling membebaskan Dan semoga.. Semesta memperkenankan.

Bersabdalah!

Bus melaju diantara senja yang sedang berpacu dengan waktu Jingganya yang magis tidak hanya perlahan menyapu badan bus Tetapi juga menyapa pikiran yang sedang tandus Rumah dengan pekarangan luas terlewati sesekali dalam rentang waktu tertentu Di antara hutan-hutan yang membisu Menghabiskan waktu disini mungkin rasanya akan lebih lambat? Tidak perlu tergesa, karena hidup pun akan selesai ketika tiba saatnya Perlahan, terbayang menua disini bersama tenangmu Riakmu yang jarang muncul menjadi bukti Bahwa kedalamanmu tidak perlu diragukan Aah, aku ingin tenggelam dalam ketenanganmu Diantara desa yang senyap, yang hanya sesekali bersuara k arena gemerisik daun yang tertiup angin Tenangmu membuatku lebih mudah bercermin Menemukan pantulan diriku sesungguhnya Saat itulah aku sadar, aku compang-camping dan pontang-panting Layakkah aku? Tidak. Karena tidak seorangpun layak bagi yang lain. Tetapi, Bersabdalah saja, maka aku akan sembuh.

Hiking atau Cable Car?

Saya berdiri di depan Stasiun Tung Chung dengan carrier  hijau muda berukuran 35 liter yang disandang di punggung dan daypack hijau tua disandang di depan dada, sambil memandang keluar stasiun. Suasana tidak terlalu ramai, saat itu sedang gerimis dan sejauh mata memandang, kabut masih menyelimuti tanpa ada tanda-tanda matahari akan menampakkan diri. Badan saya agak gemetar, flanel tebal yang saya kenakan rupanya tidak berhasil menghalau dingin. Saya merutuki diri sendiri karena memutuskan tidak membawa jaket yang biasa dikenakan untuk pendakian. Ah, prakiraan cuaca terbukti benar. Sejak subuh, hujan sudah turun meskipun tidak dengan intensitas besar. Saya masih berdiri sambil menimbang-nimbang rencana  solo hiking menuju Ngong Ping Village melalui Lantau Peak dengan cuaca yang kurang mendukung. Bimbang apakah akan tetap mendaki sendirian meskipun hujan, kabut tebal, dan tidak mengenal medan atau menggunakan  cable car  yang fenomenal dengan cukup duduk manis, tid...

Cerita dari Disney Land

Pertengahan April ini, berbekal tiket pesawat gratis Jakarta - Hong Kong PP, free One Day Pas Ticket Disney Land, dan tumpangan menginap di rumah seorang teman, saya akhirnya berkesempatan menyambangi Hong Kong, negara yang katanya supersibuk dengan biaya hidup yang supermahal. Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman ke Disney Land melalui foto yang saya ambil secara candid . Karena saya pergi sendiri, sambil menunggu antrian masuk wahana, saya berkesempatan mengambil gambar-gambar ini.  Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan setiap saya melihat kedekatan ayah dengan putrinya, terlebih lagi ayah dengan putrinya yang masih balita. snow white dalam gendongan this pinky princess is in the safest hand have a nice dream, my dear! can you see that, my little girl? warm feeling when i saw them laugh together Kalau foto-foto setelah ini adalah potret interaksi antara ayah dengan anak laki-lakinya. Seorang teman pernah bercerita bagaimana dia sela...

Badai Pasti Berlalu, Terang Pasti Datang

source: https://www.artsdistrictchorale.org/events/light-darkness-stars-vastness-heavens/ Habis gelap, terbitlah terang . Badai pasti berlalu . Slogan penyemangat yang begitu sering bergaung. Permasalahannya, bertahankah kita sampai saat terang itu tiba? Bertahankah kita sampai badai akhirnya berlalu? 2012 saya mengalami masa-masa yang rasanya mengerikan. 2017 saya mengalami hari-hari yang lebih mengerikan. Ah, mungkin bukan mengerikan, tapi “tahun sulit”. Siklus lima tahunan? Entahlah. Masih terbayang jelas dalam ingatan tentang masa-masa itu. Ketika siang, saya berharap malam segera tiba agar saya bisa tidur dan tidak usah sibuk bersosialisasi. Saya pun merasa lelah sepanjang hari. Ketika senja, saya begitu takut membayangkan harus kembali ke kamar dan bergulat dengan kesendirian. Ketika malam, saya terjaga dalam gelap dengan mata nyalang dan terisak dalam hening. Pekat malam mendistorsi kenyataan menjadi hal yang jauh lebih buruk dari sebenarnya dan memunculkan ide-ide y...

Di Kereta Menuju Jogja, Tepat Pukul Lima

Ada momen yang begitu nyaman untuk terlelap Misalnya saat berada di kereta menuju Jogja, tepat pukul lima Saat matahari mulai menyinari harapan petani yang sedang menguning Juga menghangatkan jiwa-jiwa kami yang mulai dingin Ada momen yang begitu nyaman untuk terlelap Misalnya saat berada di kereta menuju Jogja, tepat pukul lima Diiringi penyair jalanan yang menyanyikan rima Membawakan syair entah karya siapa Ada momen yang begitu nyaman untuk terlelap Misalnya saat berada di kereta menuju Jogja, tepat pukul lima Bersama teman-teman seperjalanan Yang diam-diam tidak pernah merasa sejalan Kereta tiba di Stasiun Lempuyangan Yang terlelap bangun tergesa memungut impian Kereta sudah sampai Tapi perjalanan belum selesai

Cerita dari Boalemo - Pulo Cinta Eco Resort

"Ran, ke Pulo Cinta yuk," Azki memberi ide untuk melakukan perjalanan ke suatu pulau yang akhirnya saya tahu itu ada di Boalemo, Gorontalo. Karena saya mure kalau masalah diajak jalan-jalan, saya pun langsung mengiyakan dengan mengajak teman-teman KMK siapa tahu ada yang berminat. Lumayan juga, semakin banyak orang, bisa semakin murah. Akhirnya, pertengahan Oktober 2017, saya, Azki, Leti, dan Eva berangkat kesana. Dari gambarnya saja, Pulo Cinta Eco Resort ini bentuknya lope-lope gitu. Tidak heran kalau tempat ini biasanya menjadi tujuan honeymoon . Perjalanan kali ini tidak terlalu rumit transportasinya. Kami menggunakan direct flight ke Bandara di Gorontalo dari Bandara Soekarno Hatta. Sesampainya di Bandara Gorontalo, kami sudah dijemput oleh pihak resort dengan menggunakan mobil untuk melanjutkan perjalanan selama kurang lebih dua jam. Jangan takut, jalanan dan pemandangannya bagus, jadi dua jam tidak akan terlalu terasa. Setelah dua jam berkendara, akhirnya dilanjut...

Sajak Pertama Untukmu

Senja merah muda dan semut-semut sedang termenung. Mereka mendengarkan perbincangan dua orang canggung yang sesekali terselip dengung. Rumput-rumput meliuk bingung. Sepakat. Bahwa persamaan adalah berkat. Perbedaan adalah rahmat. Dan perjuangan adalah hakikat. Tidak perlu terlalu cepat. Tidak juga menjadi terlambat. Biarlah semua pada waktu yang tepat. Lihatlah, hening mulai menari. Rasakan pula damai yang turut bernyanyi. Perlahan, langit pun turut berseri. Angin sore menyapa mereka sambil berbisik: "Iman, Pengharapan, dan Kasih. Yang terbesar diantaranya adalah kasih."

Jalur Pulang

Katanya, cuma orang gila yang terus melakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Hmm, sekarang bayangkanlah kalau kamu sedang tersesat. Kamu mencari jalan pulang dengan mengulangi lagi jalan yang telah kamu ambil, berkali-kali, tanpa ada modifikasi sama sekali. Bisakah kamu pulang? Saya bagian dari yang mereka sebut gila. Sekarang saya melihat ke belakang dan mencatat baik-baik salah jalur yang pernah saya ambil hingga membuat saya ada di tempat berdiri sekarang. Pernah melewati jalur yang luar biasa indah, tapi ternyata membawa saya pada bibir tebing dan membuat saya hampir mati. Pernah juga melewati hutan gelap dan lembab, tidak ada pemandangan lain selain jalan setapak yang menanjak dan penuh semak. Rupanya jalur ini membawa saya pada pemandangan matahari terbit terbaik.  Begitu banyak percabangan di depan. Bukan tidak mungkin salah dan gagal lagi. Setidaknya berani berubah dan mengambil jalur baru, sambil berharap bisa pulang, di saat yang tepat.