Skip to main content

Posts

Menginginkan

Sekali waktu, kamu menginginkan banyak hal. Ada binar di matamu yang membuat semangat hidupmu terus menyala. Mengusahakan keinginan-keinginan itu. Pagimu penuh semangat dan harapan. Seperti anak kecil yang akan masuk sekolah di hari pertamanya. Berharap malam segera berakhir Karena tak sabar untuk segera pagi Dan kembali menggapai hari Aku ingin hidup seribu tahun lagi, Bisikmu dalam hati. ----- Sekali waktu kamu kecewa, Karena keinginanmu tidak bisa tercapai. Kamu mempertanyakan dirimu sendiri Tidak cukup pantaskah aku? Kurang keraskah perjuanganku? Kamu belajar melepaskan keinginan Tidak lagi menaruh harapan Dengan begini, kamu berharap tidak perlu lagi merasa kecewa Bukankah yang tidak memiliki tidak akan kehilangan? Di titik ini, hidupmu tinggal sehari ataupun seribu tahun lagi Kamu tidak peduli ----- Hidup tanpa keinginan Ternyata membawa hidup yang tanpa gairah Hidup yang tanpa gairah ternyata membuatmu jauh lebih cepat lelah Persetan dengan kec...

Pasti

Randu rebah di pangkuan Jati untuk pertama kalinya. Dengan canggung, Jati menyisiri rambut Randu yang tebal dan bergelombang dengan jarinya.  "Saya tidak tahu apakah saya bisa merubah keputusan saya," Randu berbisik. "Atau mungkin saya yang harus merubah keputusan saya," Jati membalas. Ia sedang menimbang-nimbang. Mungkin menunggu adalah salah satu bentuk usaha terakhir yang dapat dilakukan, karena tentu saja memaksa sama sekali bukan pilihan. Seperti lari berdua yang selama ini menjadi ritual bersama Jati dan Randu. Meskipun keduanya memiliki pace yang berbeda, tapi mereka tetap bisa menikmatinya. Memaksakan yang lebih lambat mengikuti ritme yang lebih cepat hanya akan menyiksa salah satunya. Pilihan yang mungkin adalah menunggu di tempat yang dijanjikan, memperlambat pace salah satunya, atau menjemput yang tertinggal setelah sampai pada titik tertentu. "Saya butuh kepastian darimu bahwa kita akan bersama-sama mengusahakan berada di garis fin...

Dicintai Tanpa Syarat

Jati keluar dari kamarnya untuk menemui seseorang. Ia agak takjub dengan tempat ini saat pertama kali tiba. Tempatnya begitu hening, rindang dan sejuk. Bagai oase di tengah-tengah Jakarta yang polusi dan bisingnya luar biasa. Wisma Petapa namanya, tempat mencari oase rohani bagi mereka yang merasa membutuhkan. Jati sudah membuat janji dengan seorang Frater. Frater adalah panggilan yang digunakan untuk calon Pastor. Frater ini tiga tahun lebih muda darinya, Frater Lintang namanya. Frater Lintang yang akan mendampingi proses “pertapaan” Jati selama di wisma. Seorang yang wajahnya teduh, pembawaannya sangat lembut, dan auranya membawa kegembiraan. Ia sudah menunggu di tempat yang dijanjikan, di   bawah pohon besar, dengan kursi dan meja yang dibuat dari batu. “Jadi, apa pertanyaanmu?” tanya Frater Lintang pada Jati dengan senyum khasnya. “Frater, bagaimana Yesus yang mati di kayu salib ribuan tahun lalu bisa tetap relevan menjadi penebus dosa manusia yang hidup saat ini?” ...

Biasa

Jati sedang membaca catatan hariannya yang tidak setiap hari ia tulis. Besok peringatan hari lahirnya yang kesekian. Dia ingin mengingat kembali ada cerita apa beberapa tahun ke belakang. Hmmm, tidak terlalu berbeda dengan orang kebanyakan. Ada pengalaman menyenangkan dan menyedihkan, menemukan dan kehilangan, memperjuangkan dan melepaskan, mempercayakan dan mempertanyakan, melakukan kesalahan dan memetik pelajaran. Ada cerita dimana Jati mempertanyakan prinsip-prinsipnya, kehilangan kepercayaan dirinya, bahkan ketakutan setengah mati pada kesendirian dan kesunyian. Jati lupa bahwa sejatinya manusia memang sudah harus sendirian, bahkan sejak mulai tumbuh di rahim ibu sampai akhirnya ditanam ke perut bumi, dua tempat yang selalu sunyi. Ada cerita dimana Jati dibuat tertekan dengan target-target ciptaannya sendiri. Terburu-buru sampai lupa bahwa bagian terpenting adalah menikmati apa yang berjalan bersama sang waktu. Mudah hilang sabar saat apa yang diekspektasikan tidak sesuai denga...

Berjalanlah. Nikmatilah.

Akhirnya aku kembali ke pelukanmu Menjejaki lagi lekuk punggungmu setelah sekian lama tidak bertemu Irama nafasku yang bernada sumbang Ikut beradu dengan nyanyian riuhmu yang syahdu Bersama riak sungai yang berkejaran, Tonggeret yang berterompet, Dan cericit burung yang berdengung merdu Aku memburu sudut-sudutmu Dengan peluh dan nafas tersengal Tak perlu tergesa, bisikmu Karena perjalanan untuk dinikmati Meski puncak tak sabar untuk disambangi. Kulelapkan tubuhku dalam pelukanmu Ah, seperti melayut di rahim ibu Tak ada marah, sumpah, dan serapah Tak kenal istilah lelah, gundah, dan gelisah Berjalanlah. Berjalanlah. Berjalanlah. Beristirahatlah. Bersabarlah. Nikmatilah. Tak perlu tergesa Karena perjalanan untuk dinikmati Meski puncak tak sabar untuk disambangi --- Setelah tabung-tabung jiwamu kembali terisi, Pulanglah! Kembalilah kepada para terkasihmu Rindu yang syahdu Juga petualangan baru Menunggumu di balik pintu

Pulang

Rindu membuncah Di antara sepoi dingin yang terselip masuk melalui setiap sela Lantunan air yang jatuh Menciptakan irama penghantar tidur Menghantar rindu dan doa yang selalu beriringan untukmu, kasihku Aku bisa melihat punggungmu dari kejauhan Punggung itu sudah berada di tempat biasa Seperti pendaki yang sudah bisa melihat puncak gunungnya Dengan perasaan itulah, aku datang menghampirimu Mata yang selalu jujur, senyum khas yang canggung menggantung Ah, ini dia kasihku. Kemudian kita berjalan bersisian.. Bercerita tentang perjalanan Kamu tahu salah satu bagian terbaik dari perjalanan? Pulang Kamu tempatku pulang, kasihku.

Teman, Tetaplah Berpetualang Tanpa Lupa Pulang!

Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut ulang tahun salah seorang teman jalan terbaik. Perjalanan pertama kami adalah ke Bali lewat jalur darat, di tahun 2011. Saat itu usianya bahkan belum genap 20 tahun. Meskipun masih anak bawang, tapi dia selalu bisa diandalkan. Perjalanan setelah itu, dia selalu menjadi perencana perjalanan handal dan penuh perhitungan.. Dari luar, auranya memang seperti singa. Tapi kenalilah lebih dalam, maka kamu akan menemukan sosok helo kitty yang lembut luar biasa. "Kesini yuk minggu depan?" "Ayo!" "Gw mau naik gunung X bulan depan, mau ikut gak?" "Mau!" "Gw pengen ngerayain ultah deh di gunung." "Yaudah, ke Y aja yuk. Gw temenin." "Pantai X bagus nih, camping kayanya seru." "Berangkat!" Dulu, iya dulu, begitu mudah merencanakan perjalanan. Hampir tidak pernah sekedar wacana. Tentukan tanggal, buat rencana perjalanan, lalu berangkat. Tidak sesering itu memang, ...

Diam

Tebaran merah dilemparkan matahari Dia bercengkrama diujung langit Bayangan terpaku di tanah Jiwaku tenggelam di dasar rumput Aku ingin melihatmu dalam gelap Yang mulai datang Aku ingin menyelamimu Dalam risau yang sering datang Aku ingin diam bersamamu Dalam rangkulan malam -payung teduh

Pelukan Ibu

Dengan langkah pelan, perempuan itu berjalan masuk. Cahaya temaram lilin menerangi wajahnya. Dia memilih duduk di sudut lalu memandang wajah teduh Ibu. Tak lama kemudian, ia memejamkan mata. Bahunya terguncang. Ia menangis tergugu tanpa suara di pelukan Ibu. Segala bahagianya. Segala syukurnya. Segala khawatirnya. Segala lukanya. Segala sedihnya. Segala yang tidak mungkin ia ceritakan pada dunia. Ia bawa dan ceritakan kepada Ibu, tanpa suara. Ibu memeluknya dengan penuh kasih. Dalam hening, tanpa penghakiman, tanpa syarat. Cukup lama ia terbuai dalam pelukan Ibu. Ia senyaman bayi dalam rahim, segala yang ia butuhkan sudah berada di dalam sana. Pelukan yang membuatnya lupa bahwa dunia sedang memanggil, menunggunya di luar sana. "Ibu Maria, dampingilah aku selalu," katanya kemudian diikuti tiga kali Salam Maria lalu bergegas pergi. Kembali ke pelukan dunia.

Berkenan

Semesta mempertemukan Tidak ada yang menggebu Tidak ada yang terlalu Tidak berlebihan tentang masa lalu Tidak juga terlalu berangan tentang masa depan Kita berjalan bersisian Sesekali sibuk dengan masing-masing pikiran Kemudian mendarat pada kenyataan Bahwa hening pun terasa nyaman Kita berlari beriringan Sesekali terpisah dari barisan Kemudian bertemu lagi di depan Sambil saling menyambut dengan segaris senyuman Spontanitasmu mengingatkan saya pada ketulusan anak-anak, menggembirakan Canggungmu mengingatkan saya pada remaja tanggung yang malu-malu, menggemaskan Sabarmu mengingatkan saya pada sebatang pohon rindang di savana gersang, meneduhkan Tenangmu mengingatkan saya pada hening panjang di jalur Argopuro, mendamaikan Belajar.. Menerima segala keterbatasan Mendampingi dalam kesederhanaan Mengasihi untuk saling membebaskan Dan semoga.. Semesta memperkenankan.