Skip to main content

Posts

Banda Neira

source: wikipedia Kalau dulu saya begitu menginginkan menginjakkan kaki di Rinjani, sekarang saya begitu ingin mengunjungi Banda Neira. Pertama kali saya mendengar kata Banda Neira adalah ketika di sekolah dasar, pelajaran sejarah, yang menyebutkan bahwa Presiden Soekarno diasingkan disana. Banda Neira   menjadi begitu familiar untuk saya ketika saya mendengarkan lagu-lagu nelangsa riang yang dibawakan oleh Ananda Badudu dan Rara Sekar, yang kemudian menamakan diri sebagai Banda Neira . Lagu-lagunya sa nga t sesuai untuk menema ni perjalanan panjang . Cobalah dengarkan! Selanjutnya, ketika saya sedang sarapan di Ambon, tiba-tiba warga lokal bercerita bahwa ia baru saja pulang dari Banda Neira untuk memotret, rupanya dia seorang fotografer. Dia b erangkat menggunakan pesawat kecil dan pula ng menggunakan kapal . Dia terlam bat pu la ng karena o mbak sedang pasang. Tidak ada kapal yang ber ani berlayar. Dari ceritanya, bar ulah saya tahu bahwa Banda Nei ra masuk ke da...

Hening

Coba bayangkan kamu sedang menyelam di kedalaman laut. Ketika arusnya deras dan ombaknya besar, kamu sulit untuk melihat apa yang ada di sekelilingmu. Kamu sulit menangkap apa yang ada di kedalaman sana. Semuanya menjadi terlalu sulit untuk diamati. Bayangkan setelah beberapa saat, arusnya menjadi tenang, tidak ada ombak, dan kamu bisa berenang melayang-layang dalam keheningan. Kamu bisa melihat banyak ikan cantik berenang di sekelilingmu. Terumbu karang dan berbagai biota laut lainnya berada disana dengan keindahan yang mendamaikan. Kamu bisa merasakan suara gelembung hasil pernafasanmu sendiri. Kamu terhanyut dalam keheningan penyelamanmu sampai akhirnya kamu menemukan ada bagian yang tidak sempurna di sudut-sudut gelap. Ada terumbu karang yang rusak, ada sampah yang menumpuk dan tak terurai. Ada yang tidak sempurna dari kedalaman laut itu. Seorang teman mengilustrasikan ini pada saya beberapa waktu lalu. Keheningan menjadi begitu dibutuhkan untuk menemukan keindahan...

Titik

Ada tujuan dan pelajaran dari setiap orang yang hadir dalam hidupmu, dia akan pergi ketika tugasnya telah selesai. Saya tidak ingat siapa penulisnya, tidak juga yakin demikian rangkaian kalimatnya tapi saya pernah membaca hal serupa ini di suatu tempat. Selama ini saya memiliki beberapa teman dekat, kami saling bertukar cerita, saling mendukung, tapi mereka tidak pernah mengkritik saya habis-habisan. Mungkin karena ada bagian yang saya tidak tunjukkan ke orang lain selain orang-orang yang benar-benar dekat. Kamu menemukan sisi tergelap saya yang bahkan mungkin selama ini saya tidak sadari, kamu mengkritik saya habis-habisan, kamu yang membuat saya sadar dan mengakui bahwa “I am a selfish jerk.” Saya Si Brengsek yang Egois. Saya kira saya pendengar yang baik. Ternyata tidak. Saya mendengar apa yang mau saya dengar, bukan apa yang harus saya dengar. Saya kira saya pengamat yang baik. Ternyata jauh dari itu. Saya sedikit banyak menyadari apa yang terjadi di sekeliling, tapi sa...

Amplop

Alam memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan, tepat di depan warung kelontong. Aku turun membeli amplop. Dia memberiku beberapa lembar uang sekaligus pulpen. Kami akan segera menghadiri pernikahan sahabat Alam. “Kamu terbiasa menulis namamu di amplop?” Aku bertanya kepadanya heran. Aku kira hanya generasi ibuku yang masih menjalani tradisi ini. “Adatnya memang demikian, Raya. Kamu menulis namamu disitu agar mereka tahu. Jadi suatu hari kamu mengadakan acara serupa, mereka tahu harus memberi berapa,” katanya sabar. Aku mendengar alasan yang persis sama dari ibuku ketika aku protes padanya tentang mencantumkan nama di amplop. Ibuku masih menjalani kebiasaan ini. “Itu namanya pamrih dong. Mereka harus mengembalikan yang telah kita berikan. Jadi, mereka malah berhutang kepada kita. Kalau kita ikhlas memberi, kenapa kita harus menulis nama disitu?” aku memberondongnya dengan pertanyaan. “Kebiasaan di tempat kita, jika ada orang yang mau mengadakan acara, biasa...

Permukaan

Pikirkanlah! Kamu harus menemukan alasan yang mendasar, bukan yang hanya di permukaan. Perkataannya membuat saya terhenyak. Betapa akhir-akhir ini saya begitu malas berpikir, malas merenungkan. Begitu banyak jalan, begitu banyak pilihan, semuanya tampak kusut. Alih alih mengurai kekusutan, saya sibuk bermain di sudut ruangan. Seseorang menginterogasi saya kemarin. Dari sana saya menyadari, bahwa yang saya ingin capai sangatlah artifisial. Dia terus-menerus bertanya, menyuruh saya mengumpulkan kepingan – kepingan yang berserakan, lalu meminta saya untuk menyusunnya, dan menemukan gambaran utuh. Tidak ada yang bisa saya sampaikan selain berterimakasih untuk perjumpaan kami. Untukmu dan untukku yang sedang tersesat, berhentilah sejenak. Temukan motivasi yang paling mendasar. Tanya ke dalam dirimu apa yang benar-benar kamu inginkan. Buatlah rencana jangka pendek, rencana jangka panjang, hiburan apa yang kamu inginkan, hidup seperti apa yang menjadi impianmu, hal apa yang ingin...

Percayalah

Kadang, hal paling negatif bukan berada di diri orang lain, melainkan di pikiranmu sendiri tentangnya. Kamu membuat skenariomu sendiri tentang hal terburuk yang mungkin terjadi padamu dengan membuat dia sebagai pemeran antagonis. Kecurigaan akan menggerogoti jiwamu pelan-pelan, menguras kantong-kantong kebahagiaanmu. Berhentilah menyelidiki terlalu jauh. Bertanyalah padanya dengan kemurnian ingin mengetahui, bukan tendensi ingin membuktikan bahwa hipotesismu benar. Kebenaran akan menampilkan dirinya di saat yang tepat, percayalah. Bukankah dalam Injil tertulis, berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.