Skip to main content

Posts

Seandainya

"Seandainya kamu bisa memilih satu profesi lain selain seniman, kamu akan memilih jadi apa?" Pertanyaan ini keluar begitu saja di percakapan acak saya dan Cen. Kemudian ia menceritakan profesi lain yang masih terkait dengan estetika tetapi lebih teknis. Dua hal yang sebenarnya memang sangat mencerminkan dirinya saya kira. Ia bisa sangat mengolah rasa tapi sangat teknis sekaligus.  "Hmm, kalau saya bisa memilih satu profesi lain selain aktuaris, saya mau jadi apa ya.." Saya terdiam beberapa saat, kemudian terpikir profesi yang berkaitan dengan anak-anak dan perempuan. Dua isu yang saya cukup peduli walau sekarang saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya dan entah apa yang sudah saya lakukan untuk isu tersebut. Entah kenapa dengan hanya membayangkan, ada gairah  yang menyala. Menyenangkan rasanya membayangkan saya bisa ahli di bidang itu, melakukan hal yang disukai, terjun ke hal-hal yang saya peduli, kemudian menjalani profesi yang bukan untuk mencari penghidupan...

Hitam Putih Tiga Puluh

Genap tiga puluh di Rinjani. Kali ini saya akan bercerita singkat tentang pendakian saya dan Cen ke Rinjani awal September lalu.  Perjalanan dimulai dari Bali, menggunakan motor sewaan, menuju Lombok. Perjalanan dimulai pukul sebelas malam dari Ubud menuju Pelabuhan Padang Bai. Motor inilah yang akan menemani kami menyeberang dan mengelilingi Pulau Lombok. Setelah empat jam di tengah laut, subuh kami sampai di Pelabuhan Lembar, Lombok. Tidak langsung ke Lombok Timur, kami ke selatan dulu mampir di Pantai Mandalika menghabiskan pagi di sana. Setelah itu, kami menyusuri pantai lombok dari selatan ke Utara untuk bisa sampai Sembalun. Pukul tiga sore kami sampai basecamp. Keesokan harinya, kami baru memulai pendakian. Ini barang yang akan kami bawa selama pendakian.  Rencananya, kami akan mulai mendaki melalui Sembalun kemudian turun melalui jalur Torean. Sembalun terkenal dengan jalurnya yang cantik dan terbuka. Sepanjang perjalanan ke Plawangan, kamu akan disuguhi dengan savana ...

Mata - Mata

Ia datang dengan mata yang berbinar-binar. Sepanjang kedatangannya, ia bernyanyi tak henti, sesekali menari. Seluruh ruangan mendadak ikut riang dan hangat, padahal di luar sedang gerimis dan agak sendu.  Sorot mata yang paling saya kenal darinya adalah sorot mata yang teduh dan penyabar. Saya bisa berlama-lama menatap matanya dan menemukan kedamaian di sana. Kalau ia sedang tertawa, matanya akan tertarik ke samping dan ada garis-garis halus di ujung-ujung matanya yang membuat tawanya semakin meriah.  Kali ini berbeda. Tatapan matanya tidak semeriah kalau ia tertawa, tapi juga tidak setenang biasanya. Ia tersenyum dengan matanya. Ada kegembiraan yang menyala, yang seolah-olah memanggilmu untuk ikut merayakannya bersama-sama. Jiwa saya ikut bernyanyi dan menari di kedalaman matanya.

Merasa Bersalah

Salah satu perasaan yang paling mengerikan adalah merasa bersalah. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki karena sudah terlanjur terjadi dan sayangnya kita tidak memiliki mesin waktu untuk meng- undo yang sudah terjadi. Yang bisa dilakukan adalah meminta maaf, melanjutkan hidup dengan perasaan bersalah yang mendera, dan tentu saja berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tanpa hukuman dari orang lain pun, perasaan bersalah yang terus membayangi seumur hidup sudah merupakan hukuman dari diri sendiri yang pahit. Diberikan maaf dan pengampunan tentu saja hal terbaik yang bisa diterima, tapi tetap tidak bisa menghilangkan perasaan bersalah atas apa yang sudah dilakukan. Semoga tidak termasuk ke dalam kaum bebal yang mengabaikan perasaan bersalah kemudian mengulangi kesalahan yang sama. Setidaknya, ingatan akan perasaan bersalah yang mengerikan menjadi pengingat untuk berpikir sejuta kali sebelum melakukan kesalahan yang sama. 

Moscarosa

Mencintaimu seperti menghirup udara bersih di kaki gunung, memberikan kesegaran dan menyehatkan. Mencintaimu seperti berjalan di pantai ketika senja tiba, theurapeutic dan menyenangkan. Mencintaimu seperti ketika mencicipi Moscarosa Sababay atau Kopi Susu Seniman, riang dan tidak ingin berhenti.  Mencintaimu seperti merenung di kamar mandi, khusyuk dan memberikan pencerahan.  Mencintaimu seperti berdoa, kedamaian dan harapan turut serta.

Cerita dari Bali

Saya kirimkan video tempat dimana saya tinggal sekarang ke keluarga di rumah, ibu bertanya, "Sekarang kamu tinggal di hutan?" Bersyukur sekali menemukan tempat ini. Tempatnya persis di pinggir jalan raya, kemudian turun ke bawah sedikit, dan voila, sebuah ruangan dengan ukuran 5m x 7m, yang dari berandanya langsung terlihat air terjun, sungai, dan pohon-pohon besar. Seperti di Aselih, ruangan ini bermandikan cahaya matahari, tapi tentu saja lebih sejuk. Setelah empat bulan pindah-pindah tempat tinggal di sekitaran Ubud, akhirnya, menemukan tempat yang nyaman tapi juga bisa sustain untuk jangka panjang. Salah satu bagian yang paling menyenangkan selama lima bulan terakhir adalah perjalanan berkeliling Bali. Di akhir pekan, saya dan Cen akan membuka google maps , lalu menunjuk tempat menarik yang sekiranya ingin dikunjungi, kemudian siap-siap, lalu berangkat.  Cen Terdampar di Pantai Jimbaran Minggu pertama, kami naik Gunung Batur di daerah Kintamani. Dua minggu setelahnya, cam...

Sedang Berdendang

tuhan, mengapa kau panggil terlalu cepat? karena ia mengerjakan segala tugasnya juga secepat kilat mengapa tidak kau berikan tugas lain?  bukankah semakin lama, semakin banyak yang bisa merasakan kebaikannya? eeh, kamu kira saya bosmu di kantor? yang semakin bagus pekerjannya, semakin terus dikasih tugas tanpa dikasih kendor tapi tuhan, banyak sekali yang merasa kehilangan oh, itu justru jadi peringatan bahwa hidup seharusnya demikian selama di bumi, kebaikannya dirasakan setelah pergi, tetap melekat dalam ingatan tuhan, apa ia sudah tenang? oh, tentu! kini ia sedang berdendang kami akan pesta malam ini menari sampai pagi karena yang terbaik, telah kembali hari ini

Angkat dan Rayakan

Aku lihat tuhan Saat hampir mati Mengakhiri hidup di tangan sendiri Dia menghampiri Lalu tanya-tanya Kamu sedang apa? Kenapa, mengapa? Tuhan aku malu Aku penuh dosa Mengapa kau datang Di saat begini? Ku tahu hidupmu Tanpa kau cerita Aku lihat semua Dari atas sana Sudah-sudah tak apa Aku tidak murka Kamu pasti lapar Ayo cari makan Dan kita berjalan Seperti kawan lama Maukah ----- Sebab ia berkata Lihatlah ke depan Dan semua yang telah lalu Yang jauh terbentang, itulah jalanmu Yang salah dan benar Yang kalah dan menang Angkat dan rayakan! Angkat dan rayakanlah! Angkat dan rayakanlah! Angkat dan rayakanlah! Ananda Badudu

Pada Nasib, Pada Arus

Tak akan kuserahkan garis hidupku Pada nasib, pada arus Dan pada rasa-rasa yang tak menentu Yang mengikatku Tak akan kubiarkan arah hidupku Dihempas nasib, dibawa arus Akan ku tentang, tantang, dan tanggalkan Itu yang ku tahu Dan akan kutuliskan jalan hidupku Tanpa nasib, melawan arus Bila deru-deru itu balik menghujamku Aku kan, aku kan melawan Sekuat-kuatnya, sekuat-kuatnya melawan Tak akan kuserahkan garis hidupku Pada nasib, pada arus Ananda Badudu

Apa Mimpimu?

Ulurkanlah jarimu Tuk ku rengkuh Dengan sepenuh hati yang telah kau tempa Dengan tabah  Dengan kasih yang tak pamrih Yang ilahi Apa mimpimu Yang belum tersentuh Tangan-tangannya Tangan-tanganku Benamkanlah lelahmu Tuk ku peluk Dengan sepenuh kasih yang murah hati Dengan sabar Dengan kasih yang tak pamrih Yang ilahi Ananda Badudu, feat Monita