Skip to main content

Posts

Hari yang Lezat

Mengejamu, Dari huruf yang menjadi kata Dan menjadikannya kalimat Tanpa sadar, disinilah kita Dalam sebuah alinea Menggenggammu, Berkait pada bu ku-buku jarimu Menelisik helai demi helai lembut romamu Ooh, izinkan aku menyelinap Memetik buah pikirmu Bergelung dalam palung sabarmu Ada kantong yang kulepaskan hari ini Ia berisi tuntutan kesetaraan Yang ternyata tidak lagi relevan, Karena kamu sudah adil sejak dalam pikiran Hari ini begitu lezat, Aku bisa menghirup aroma bahagia yang menguar Mencecap baik-baik kebersamaan kita Menemukan kembali resep utama mengapa kita adalah pokok Aah, tapi tetap ada sisa yang harus kubawa pulang Yang tak tertahankan tapi belum bisa disampaikan

Keluarga Cemara

Saya sering merasa menjadi adik durjana. Bagaimana tidak, sedari kecil kalau Ibu sudah menunjukkan gelagat akan menyuruh saya mengerjakan pekerjaan rumah, saya akan dengan secepat kilat mengambil buku lalu pura-pura belajar. Kakak yang sudah hafal pola kurang ajar saya ini akan langsung teriak, "Kamu nggak usah pura-pura belajar". Saya lalu mendadak tuli dan meneruskan "membaca" sementara Ibu akan menyuruh kakak saya melakukan pekerjaan rumah. Sampai sekarang,  kalau pulang ke rumah pun saya masih menjadi yang paling malas mengerjakan pekerjaan rumah. Air tuba dibalas dengan air susu. Betapa bandel dan keras kepalanya saya ketika kecil, kedua kakak ini tetap baik bukan kepalang. Yah, walaupun saya sempat dikunci mereka di kamar mandi atau didiamkan beberapa hari. Tidak akan lupa betapa senangnya saya saat Kakak Pertama mengajak ke Ramayana untuk dibelikan baju natal. Saya memilih baju pink dan celana putih ketika itu. Setiap dia mengabarkan akan pulang...

sebelum tidur

aku lelah, kataku. yaa tidurlah, timpalmu. bagaimana kalau ketika aku bangun ternyata lelah masih mengejarku, tanyaku. percayalah, lelahpun perlu istirahat. tidur sayang, katamu. bagaimana kalau aku tidak bisa sampai besok, tanyaku. setidaknya kita sampai hari ini. peluk aku, pintaku. mendekatlah, jawabmu. mungkin besok aku sembuh, kataku di lenganmu. yang penting bagiku, kamu bertumbuh. terima kasih, kataku. akupun demikian. aku terima kasihmu. tapi aku tidak selalu penuh dengan kasih. ada yang pernah bersabda, berbahagialah mereka yang memberi dari kekurangannya. syukur kepada allah, bisikku.

Satu Hari Lagi

Satu hari lagi. Hari ini, bisa jadi ada kesalahan lagi. Yang terjadi sangat mungin bukan yang diharapkan. Semesta tidak selalu mendukung, sesekali dia menikung. Kadang merasa salah tempat, atau bahkan merasa tersesat. Satu hari lagi. Bagaimana kalau tidak cukup baik? Bagaimana kalau tidak bisa secepat itu melaju? Bagaimana kalau tidak juga ada perubahan? Bagaimana kalau bagaimana? Satu hari lagi. Hari ini, bisa jadi ada keputusan yang benar. Yang terjadi sangat mungkin adalah yang diharapkan. Semesta tidak selalu menikung, sesekali dia mendukung. Satu hari lagi. Menerima bahwa diri tidak selalu baik. Cepat tidak selalu tepat. Tidak selalu ada perubahan, tapi semoga kami selalu memelihara harapan. Satu hari lagi. Mari berjalan bersama. Saling menemani, menyambut renta. Sampai sebagian kita, tidak punya satu hari lagi. selamat. ulang. tahun.

One Step at a Time

Bisakah kamu merasakan ketergesaan saya? Ketidaksabaran saya. Berharap semuanya sesuai dengan ritme yang saya punya. Belum lagi masalah-masalah imajiner yang saya ciptakan. Sebagian saya mengetahui itu bisa jadi bukan masalah sama sekali, tapi sebagian saya yang lain mempercayai bahwa itu sungguh masalah yang harus segera diselesaikan, saat itu juga. Suatu hari, seseorang pernah berkata, "Kalau saya bisa menggandakan sesuatu, saya ingin sekali menggandakan dirimu. Bukan untuk saya, tapi untuk dirimu sendiri. Sehingga kamu bisa menyadari betapa keras kepalanya dirimu, betapa egoisnya dirimu. Betapa kamu berharap semuanya harus berjalan sesuai maumu. Mungkin disitu kamu baru bisa menyadari, bahwa kamupun tidak sanggup menghadapi dirimu sendiri."  Saat itu, dengan sombongnya saya menjawab, "Oh tentu akan sangat menyenangkan, saya akan memiliki seseorang yang sungguh mengerti apa yang saya maksud. Sungguh mengerti jalan pikiran dan alasan yang mendasari semua yang s...

Bedebah

Tidakkah kau bertanya-tanya untuk apa seorang anak manusia dilahirkan ke tengah-tengah dunia? Aku pernah diajarkan bahwa tujuan manusia dilahirkan adalah demi kemuliaan Sang Maha saja Apapun yang aku dan kamu lakukan, itu semata hanya demi kebesaran namaNya Biarlah Ia yang semakin besar, sementara aku dan kamu yang semakin kecil. Demikianlah sabdaNya. Sejujurnya, aku tak pernah sungguh mengerti pelajaran itu. Entah karena otakku yang tak sanggup atau hatiku yang terlalu bebal. Bisa jadi karena dua alasan tersebut sungguh valid adanya. Dan aku masih bertanya-tanya untuk apa seorang anak manusia dilahirkan ke tengah-tengah dunia. Resah bercampur dengan perasaan bersalah. Aku tak lebih dari seorang bedebah. Pengingkar berkah. Sumpah, aku lelah. Bolehkah aku rebah? Kau berhak untuk berserapah. Aku tahu aku sampah! Aku ingin pulang kawan. Menjadi serpihan yang beterbangan. Menyatu dengan kesunyian. Kembali pada ketiadaan. Semoga tanpa penyesalan, Karena tak perna...

Tidak Selalu

Yang mencari tidak selalu akan menemukan Yang mengetuk tidak selalu akan dibukakan Yang meminta tidak selalu akan diberikan Yang bertanya tidak selalu akan menemukan jawaban Entah mana yang lebih menyedihkan Berulang kali dirundung kekecewaan Atau memutuskan hilang harapan

Undo

Ada hal-hal yang nggak bisa di- undo sebegitu mudahnya. Nggak selalu ada pintu keluar, kecuali emergency exit . Kadang, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah meneruskan sampai perjalanannya selesai. Menghidupi dan bertanggung jawab atas apa yang sudah diputuskan. Terlebih, keputusan itu adalah hasil buah pikiranmu sendiri, hasil dari kehendak bebas yang kamu ambil dengan sadar. Semakin bertambahnya usia, kesadaran akan hal ini semakin besar rasanya. Saya resmi menginjak dua puluh delapan tahun, dua bulan yang lalu. Pagi ini saya di Gojek, tanpa sadar saya memikirkan kembali apa yang sudah saya jalani delapan tahun ke belakang. Young and wild and free, and STUPID!  Tiba-tiba terlintas banyak kebodohan yang telah saya buat, dari yang lucu sampai yang paling menyedihkan. Energi muda saya banyak dihabiskan untuk menemukan hal yang menurut saya seru dan baru, walau kadang tidak menciptakan kedamaian dalam diri. Hal-hal 'liar' yang kalau sekarang diminta untuk melakukannya l...

Nggak Tahu

Nggak tahu gimana cara terimanya. Nggak tahu gimana cara nyampeinnya. Nggak tahu gimana nyeleseinnya. NGGAK TAHU! Salah nggak sih? Nggak tahu. Egois banget gitu? Nggak tahu. Terus harus gimana? Nggak tahu, Nyet! Nanya mulu. Kalo dibiarin, gak akan selesai. Mau nyelesain, gak punya amunisi. Jangan harap ada konklusi, kalo solusi aja cuma ilusi. Atau gimana kalo tutup mata seolah-olah bukan masalah? Yakin nggak dirundung amarah atau perasaan bersalah? Eh, mau kemana? Cari pohon! Mau ngapain? Cari inspirasi? Bukan, ada yang perlu digantung. Apa? Bukan. Siapa.

Cerita dari Argopuro (2)

Sabana Setelah Mata Air 2 Empat tahun lalu, awal September 2015, saya melakukan perjalanan ke Argopuro, sekaligus merayakan ulang tahun kedua puluh empat. Argopuro menjadi salah satu gunung favorit karena jalurnya yang cenderung landai namun panjang menyimpan banyak sekali keindahan, ditambah lagi tidak terlalu banyak pendaki lain ketika itu. Sabananya yang sungguh menawan, Danau Taman Hidup yang magis, dan merak-merak liar yang cantik. Berikut catatan perjalanan yang kami lakukan. Perjalanan ini dilakukan dalam kelompok kecil jadi dari awal hingga akhir perjalanan, kami menggunakan angkutan umum. Tadinya saya mau menuliskan biayanya juga, tetapi mengingat sudah empat tahun berlalu, rasanya ongkos dan biaya mungkin sudah tidak lagi terlalu relevan. 3 September 2015 15.15 Berangkat dari Stasiun Senen menggunakan Kereta Matarmaja 4 September 2015 08.30 Sampai di Stasiun Kota Baru, Malang 09.20 Berangkat dari Terminal Arjosari Menuju Probolinggo 11.30 Sampai di Terminal B...