Skip to main content

Posts

Sejatinya Turis

Ini jumlah terbanyak yang pernah dia minum, di tempat terjauh yang pernah dia pijak, dengan hanya ditemani seorang teman jalan. Dia ingin sekali saja berada diantara batas sadar dan tidak, sekali saja. Ah, tetapi tidak kali ini sepertinya. Tidak mungkin teman jalannya sanggup menyeret dia untuk kembali ke penginapan jika itu terjadi. Tempurung kepalanya menjadi terasa lima kali lebih berat, tetapi pikirannya jauh terasa lebih ringan, menyusut sepersepuluh kalinya. Dia menjadi lebih banyak bicara. Band accoustic sedang mengalunkan Let It Be dari The Beatles dengan syahdu, dia ikut bersenandung pelan, seolah sedang mempersembahkan lagu itu untuk seseorang. “Biar saya ceritakan kepadamu. Di tempat yang sejauh ini, saya tidak membawa serta hati saya rupanya. Dia masih tertinggal. Saya berharap bir ini sanggup membentuk hati saya yang baru. Pelarian saya tidak berhasil. Sama sekali tidak. Ah, atau mungkin saya yang memang tidak ingin benar-benar pergi. Kadang saya berharap...

Saat Untung dan Malang, Saat Sehat dan Sakit

"Ka, ada undangan," begitu kata ade saya waktu saya sampe di rumah. Saya berharap itu undangan ulang tahun, harapan yang nggak mungkin. Haha. Umur dua puluh tiga udah nggak jaman dapet undangan ulang tahun. Saya punya "geng" yang isinya empat orang dari jaman SMP. Satu udah nikah, satu lagi segera di akhir tahun ini. Satu lagi, entah kenapa, saya yakin, juga akan lebih cepet dari saya. Ah, saya salut untuk keberanian mereka. Saya bisa dengan yakin nulis target tempat yang mau saya kunjungin, pencapaian apa aja yang mau saya dapetin, mau belajar hal baru apa, baca buku berapa banyak, dan semacamnya untuk beberapa tahun ke depan. Tapi anehnya, di tulisan itu, setelah saya baca ulang, nggak ada target punya rumah di umur berapa, mau punya kendaraan apa, investasi apa, pokoknya nggak ada ciri-ciri kemapanan pada umumnya, termasuk target berkeluarga. Ada beberapa temen yang tanya, "emang target lo umur berapa?" Saya bengong, ngawang-ngawang, nggak p...

Pulang

Sudah lama aku tidak pulang, tidak juga memberi kabar. Belum terlalu rindu. Kuhabiskan waktuku sehabis-habisnya, menyibukkan diriku dengan apapun, menyempatkan melakukan banyak hal, kecuali menemuimu. Mungkin karena hidupku baik-baik saja akhir ini, aku sehat, dikelilingi keluarga dan teman-teman yang membahagiakan, pekerjaan yang memang aku inginkan - meskipun kadang aku pertanyakan, dan buku-buku yang bisa membuatku larut berjam-jam. Di saat-saat seperti ini, biasanya aku tidak rindu padamu. Kerinduan itu akhirnya tiba, memanggilku tanpa bisa kuelakkan lagi. Aku memutuskan untuk pulang. Secara tidak sengaja, yang pertama aku temui adalah ibumu, ibu kita, di kebun mawarnya. Kebun mawarnya sangat cantik dan penuh. Aku mencoba mengingat bulan apa sekarang. Ah, bulan ini memang sedang musim mawar. Aku menyapanya, memberi salam. Aku takjub dengan bibirku sendiri. Entah, sudah berapa lama aku tidak menyuarakan salam ini keras-keras untuknya. Tapi ibu tetap tersenyum, tidak ada kecewa apa...

Bentang Raya

Simple miracles, kata lain yang cocok untuk pertemuan ini jika Raya tidak mau menganggapnya hanya sekedar kebetulan. Dua hari berturut-turut Bentang hadir dalam mimpinya. Mimpi yang pertama mereka saling menatap tanpa suara. Di mimpi yang kedua, Raya dan Bentang berjalan bersama, seperti yang pernah mereka lakukan dulu. Di mimpi itu, Bentang mengangkat tangannya persis sesaat sebelum Raya meraihnya. Akhirnya, Raya meninggalkan Bentang yang meneriakinya di belakang.  "Besok saya ke Jakarta, Raya. Ada kerjaan dari kantor." Isi pesan singkat dari Bentang untuk Raya. Raya menarik napasnya pelan, dalam. Andai Raya tidak membatalkan rencana pendakiannya, mungkin Raya tidak akan sempat menemui Bentang. Andai rencana extend perjalanan dinasnya kali ini dikabulkan oleh perusahaan, Raya juga tidak akan sempat menemui Bentang. Pendakian Raya dibatalkan karena ada perjalanan dinas, dan perusahaannya tidak mengizinkan rencananya untuk extend di luar kota. Jadilah   Raya sedang m...

Saya Mimpi

Saya mimpi, saya punya temen jalan yang jadwalnya nggak jauh beda sama saya. Ketika diajak, "ayo, minggu depan kita ke sana!" Dia akan jawab, "OK!" Atau ketika dia yang ngajak, "Gimana kalau bulan depan kita ke sana?" Saya akan bilang, "Ide bagus. Let's go!" Saya mimpi, saya punya temen jalan yang di sepanjang perjalanan, kita bisa berbincang tentang banyak hal. Tentang mimpi, tentang pencapaian, tentang kerjaan, tentang temen-temen, tentang tempat yang baru aja kita lewatin, tentang kemanusiaan, tentang negara, tentang ikan paus di laut atau tentang bunga padi di sawah.

Dua Tiga

Happy 23rd! older and older.. Semenjak 2011, saya nggak ngerayain hari lahir di rumah. Selalu ada alasan dan temen jalan untuk keluar rumah. Beda sama tahun ini. Mau banget naik gunung, tapi apa daya, nggak ada temen jalan. Bahkan ke Pulau Harapan aja batal karena nggak ada peserta. Dan akhirnya, di yang kedua puluh tiga, saya full di rumah. Dua puluh dua saya penuh dengan angka dua. Dua kali ke Sukamantri, dua kali ke Sawarna, dua kali naik gunung, dua kali gagal untuk mata ujian yang sama, dan nomor dua menang pemilu *eh nggak nyambung.

Topi Hijau

Kalau sebagian orang sedang berusaha menemukan belahan jiwa mereka, aku rasa aku sudah bertemu dengan belahan jiwaku. Travelling , dia adalah belahan jiwaku. Aku sudah merasa penuh ketika aku travelling. Ibuku bilang, ada bulu kakiku yang sudah jatuh di jalan, sehingga aku tidak pernah betah di rumah, persis seperti ayahku. Dari cerita ibuku, aku tahu bahwa Ayah adalah seorang petualang, bahkan dia melamar ibu di Segara Anak. Ayahku masuk ke dalam golongan yang berbahagia menurut Gie, karena dia mati muda. Dia meninggal di usianya yang ke tiga puluh dua, saat sedang melakukan ekspedisi arung jeram di sungai Citarik. Saat itu, aku baru berusia lima tahun. Ingin rasanya aku bertanya pada Gie, apakah mereka yang ditinggalkan oleh orang yang mati muda juga termasuk golongan yang beruntung.

Enrico

Kalau minggu lalu saya foto sama Ayu Utami, minggu ini, sekaligus minggu terakhir, berhasil foto sama suaminya. Beliau ini tokoh "Enrico" dari novel "Cerita Cinta Enrico". Jadi, buat yang penasaran karakternya seperti apa, mungkin bisa baca novelnya langsung. Wow rasanya baca novel, kagum sama tokoh yang diceritain yang awalnya cuma bisa hidup di imajinasi sendiri, terus sosok itu beneran ada di kehidupan nyata. Btw, pas banget di baju Bapak Erik ini tulisannya Nepal! Mission Completed! :D

bungkus kado

Sebelumnya, bungkus kado adalah hal yang nggak penting buat saya. Untuk apa dibungkus, kalau akhirnya disobek dan dibuang, toh yang penting kan memang isinya. Saya termasuk yang sangat jarang kasih kado, dan biasanya kalaupun kasih, nggak pake dibungkus. Ok, saya akui, saya nggak pernah bisa rapi kalau bungkus kado. Tapi ada yang beda malem ini. Saya lagi siapin kado untuk mereka yang udah kaya ade sendiri. Setelah tulis surat dan dilipet jadi kapal terbang kertas, saya masih ragu untuk dibungkus apa gak. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk bungkus sesuai kmampuan saya, nggak rapi-rapi amat. Dan akhirnya saya tau, apa fungsinya kado itu dibungkus. Tangan saya emang ngebungkus, tapi pikiran saya ada entah dimana. Pikiran saya membungkus memori yang pernah ada. Pengalaman pertama ketika ketemu mereka, momen-momen yang nggak terlupakan sama mereka, keunikan mereka, dan betapa beruntungnya saya bisa ketemu sama mereka. Ketika ngebungkusnya selesai, saya bisa senyum dan bilang dal...

Iwan Fals - Kontrasmu Bisu

Malam ini, saya melihat sepasang kakek nenek berbaring di depan Stasiun Manggarai, cuma beralas tikar. Sang nenek menggigil. Saya berjalan sambil lalu, mencoba menerka apa yang terjadi. Sepuluh menit kemudian, saya memutuskan untuk kembali. Sang Nenek masih mnggigil, sementara Kakek berusaha mencari sesuatu di gerobaknya. Begitu saya berhadapan dengan Sang Nenek, wajahnya  sangat pucat ternyata. Akhirnya saya pamit undur diri dan masih tidak mengerti apa yang yang terjadi. Satu yang saya tahu, ini yang namanya Jakarta. Tinggi pohon tinggi berderet setia lindungi Hijau rumput hijau tersebar indah sekali Terasa damai kehidupan di kampungku Kokok ayam bangunkan ku tidur setiap pagi Tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri Gubuk gubuk liar yang resah di pinggir kali Terlihat jelas kepincangan kota ini Tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi malam Lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta Diatas derita mereka masih bisa tertawa Memang ku akui kejamnya kota Jakarta ...